BUKITTINGGI — Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Kesehatan (DKK) mengeluarkan imbauan penggunaan masker bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan, terutama kelompok rentan. Kebijakan ini menyusul terdeteksinya kabut asap yang mulai menyelimuti kota wisata tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Kepala DKK Bukittinggi Ramli Andrian menyatakan, hingga saat ini indeks standar pencemar udara (ISPU) masih memperbolehkan masyarakat beraktivitas seperti biasa. Namun, kondisi ini bersifat fluktuatif dan bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan konsentrasi asap.
"Melihat kondisi saat ini dan hasil pemantauan ISPU, masyarakat masih bisa beraktivitas di luar. Namun anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan disarankan mengurangi kegiatan luar ruangan. Jika sangat dibutuhkan, gunakan masker," kata Ramli dalam keterangannya.
Kabut asap yang menyelimuti Bukittinggi diduga berasal dari titik panas yang terdeteksi di sejumlah daerah Sumatra. Berdasarkan pemantauan, sumber asap berasal dari Sumatera Selatan, Jambi, Riau, serta wilayah perbatasan Sumatera Barat seperti Lima Puluh Kota, Sijunjung, dan Dharmasraya.
Ramli menjelaskan, kualitas udara saat ini masih bersifat sementara dan terdapat kemungkinan membaik ataupun menurun. Pihaknya bakal terus meninjau perkembangan tersebut bersama Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Kototabang yang memiliki alat ukur konsentrasi partikel halus.
Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Sugeng Nugroho, menyebut konsentrasi PM2.5 di Bukittinggi saat ini mencapai 20,5 µg/m³ dengan nilai maksimum 42 µg/m³. Partikel halus berukuran 2,5 mikrometer ini menjadi perhatian utama karena mampu menembus saluran pernapasan hingga ke paru-paru.
Ia memproyeksikan konsentrasi PM2.5 akan naik menjadi 35,8 µg/m³ pada 4 September dengan nilai maksimum mencapai 67,2 µg/m³. Angka tersebut masuk kategori tidak sehat dan diperkirakan terjadi pada dini hari.
Pemkot Bukittinggi menekankan pentingnya antisipasi dini ketimbang menunggu kondisi memburuk. Penggunaan masker dinilai sebagai perlindungan nyata dari paparan partikel halus yang dapat memicu gangguan pernapasan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit asma atau bronkitis.
Ramli meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang tidak jelas sumbernya. Ia mengimbau warga hanya memantau informasi resmi dari pemerintah dan menjaga kondisi tubuh di tengah kualitas udara yang tidak menentu.
"Masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan memantau segala informasi secara resmi serta tetap menjaga kesehatan di tengah kondisi udara terkini," ujarnya. Pihak DKK akan terus memperbarui data kualitas udara dan menyampaikan perkembangannya kepada publik melalui kanal resmi pemerintah kota.