Dinas Kesehatan Kota (DKK) Bukittinggi, Sumatera Barat, mengimbau warga yang beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker menyusul kondisi kabut asap yang mulai menyelimuti kota tersebut. Imbauan ini ditujukan khususnya bagi anak-anak dan lanjut usia (lansia) yang paling rentan mengalami gangguan pernapasan akibat kualitas udara yang memburuk.
BUKITTINGGI — Pemerintah Kota Bukittinggi melalui Dinas Kesehatan Kota (DKK) menyarankan penggunaan masker bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap gangguan pernapasan di tengah kabut asap yang mulai terasa di kota wisata tersebut, Kamis (3/9).
Kepala DKK, Ramli Andrian, menyampaikan bahwa masyarakat umum masih dapat beraktivitas di luar ruangan, namun kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan disarankan untuk mengurangi kegiatan di luar ruangan. "Jika sangat dibutuhkan maka dianjurkan menggunakan masker," ujarnya.
Apa Penyebab Kabut Asap di Bukittinggi?
Berdasarkan pantauan Stasiun Pemantau Atmosfer GAW Bukit Koto Tabang, kabut asap yang menyelimuti Bukittinggi diduga berasal dari titik panas yang terdeteksi di beberapa daerah di Pulau Sumatra.
Ramli Andrian menjelaskan, arah angin dominan yang bertiup dari Tenggara dan Selatan membawa polutan dari wilayah Sumatera Selatan dan Jambi. Selain itu, potensi pencemaran juga berasal dari wilayah yang berbatasan langsung dengan Riau, seperti Kabupaten 50 Kota, Sijunjung, dan Dharmasraya.
Bagaimana Kualitas Udara Saat Ini?
Data dari Stasiun GAW Koto Tabang menunjukkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Bukittinggi masih berada dalam kategori "sedang". Kepala Stasiun GAW Bukit Kototabang, Sugeng Nugroho, merinci prakiraan konsentrasi PM2.5 di wilayah Kota Bukittinggi mencapai 20,5 mikrogram per meter kubik.
Meski demikian, potensi penurunan kualitas udara tetap ada. Sugeng menambahkan, prakiraan untuk tanggal 4 September menunjukkan konsentrasi PM2.5 meningkat menjadi 35,8 mikrogram per meter kubik. "Dengan konsentrasi maksimum 67,2 mikrogram per meter kubik kategori 'tidak sehat' yang diprakirakan terjadi pada dini hari nanti," jelas Sugeng.
Warga Mulai Menggunakan Masker
Kondisi udara yang berubah ini pun mulai disadari warga. Salah seorang warga, Roni Malin (50), mengaku telah mewajibkan kedua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar untuk memakai masker saat berangkat sekolah.
"Udara Bukittinggi tidak sesejuk biasanya. Antisipasi penyakit, anak saya dua orang pelajar sekolah dasar tiap hari diantar dengan sepeda motor bersekolah, di lingkungannya juga sudah banyak yang memakai masker," kata Roni.
Pihak DKK memastikan pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan dan berkoordinasi dengan Stasiun GAW Koto Tabang. Masyarakat diminta tetap tenang, terus memantau informasi resmi, dan menjaga kesehatan selama kondisi udara belum sepenuhnya pulih.