SUMATERA BARAT — Empat pertandingan, empat kekalahan, nol gol. Itulah rapor Coventry City sejak kembali ke Premier League untuk pertama kalinya dalam seperempat abad. Kekalahan terakhir terjadi di kandang Brighton & Hove Albion pada Minggu, sebuah sore yang berjalan brutal bagi tim asuhan Frank Lampard.
Yang membuat laga itu makin pahit, pemain anyar Taiwo Awoniyi diusir wasit. Coventry harus menyelesaikan pertandingan dengan 10 pemain, dan jumlah gol yang mereka kemasukkan musim ini sudah menyentuh angka 10. Hanya Tottenham Hotspur yang mencatat nol gol seperti Coventry, tetapi rekor pertahanan Spurs cuma separuh lebih buruk.
Awoniyi, rekrutan musim panas yang diharapkan jadi ujung tombak, justru meninggalkan rekan-rekannya berjuang sendiri di sisa laga kontra Brighton. Tanpa penyerang murni, Coventry kehilangan opsi menyerang dan semakin sulit keluar dari tekanan.
Laga melawan Brighton menjadi pengingat keras bahwa sebagian sore di Premier League memang akan sulit ditelan. Tidak ada yang menyangkal kenyataan itu, termasuk Lampard sendiri.
Tekanan pada Lampard murni datang dari hasil di lapangan. Namun sebagian besar pendukung Coventry memahami betapa beratnya promosi ke Premier League, dan mereka menghargai kerja Lampard di balik sorotan utama.
Ketika King dan Coventry menyepakati kontrak baru berdurasi tiga tahun untuk Lampard, tidak ada yang menyembunyikan bahwa musim ini akan berat. King sudah menyatakan sikapnya dengan gamblang: ia lebih peduli pada klub yang melakukan hal-hal benar dengan cara yang benar ketimbang hasil permukaan semata.
Pandangan itu menunjukkan pemahaman yang cukup terang soal besarnya tantangan bagi klub promosi. Ada 19 tim lain yang ingin mengalahkan Coventry, dan King tampaknya enggan mengambil risiko memotong hidungnya sendiri.
Data masa lalu tidak ramah. Tim promosi yang memulai musim dengan empat kekalahan cenderung mengakhiri musim di zona degradasi Premier League. Coventry kini berada di posisi yang tidak nyaman, tetapi itu bukan jaminan mereka akan terdegradasi.
Kegagalan menghindari zona merah pun tidak otomatis menghapus perkembangan positif Lampard sebagai manajer dalam dua tahun terakhir. King seharusnya mulai menabung kesabaran, bukan menghabiskannya, karena Lampard sudah membuktikan kepercayaan itu layak diberikan.
Rabu nanti, Coventry akan menjamu Aston Villa di Carabao Cup di Coventry Building Society Arena. Menariknya, laga itu mempertemukan dua tim yang saat ini menempati posisi terbawah Premier League.
Unai Emery mendapat dukungan luas di Villa berkat pencapaiannya. Lampard, menurut pandangan FourFourTwo, layak mendapat perlakuan yang sama. Sekarang bukan waktunya panik. Hasil buruk Coventry nyata, tetapi King dan para pendukung The Sky Blues tampak sadar bahwa menghindari situasi ini bukan hal yang bisa dijamin siapa pun.