SUMATERA BARAT — Penurunan pasar roda dua pada Agustus 2026 tidak membuat Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) kehilangan arah. Manager Public Relations, YRA & Community YIMM Rifkie menyebut naik turunnya pasar sebagai kondisi normal yang dipengaruhi banyak variabel di luar Jakarta.
Faktor Panen hingga Daya Beli Regional Jadi Pemicu
Rifkie menyoroti bahwa pelemahan Agustus bukan fenomena satu wilayah. Menurutnya, siklus ekonomi daerah seperti masa panen ikut menentukan daya beli konsumen.
"Terutama kan yang bisa kita lihat kan enggak hanya di Jakarta, mungkin di area-area seperti mungkin masa panen atau mungkin hal-hal lain yang kadang mempengaruhi daya beli," ujarnya di sela acara Yamaha Dirt Bike Experience Chapter Skill Up, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (11/9).
Ia menambahkan pasar otomotif memang bergerak dinamis dari bulan ke bulan. Namun secara tahunan, YIMM melihat tren yang tetap positif.
"Ya mungkin beberapa faktor di luar kondisi, namanya market pasti kan naik turun ya, hal yang wajar. Tapi kita sudah cukup optimistis ya karena memang dari years to years kan terbukti dari angka yang dirilis ada kenaikan," kata Rifkie.
Target AISI 6,4–6,7 Juta Unit Masih di Jangkauan
Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menetapkan target penjualan roda dua 2026 di kisaran 6,4 juta hingga 6,7 juta unit, setara pencapaian 2025. Hingga Agustus, distribusi roda dua baru mencapai 4.362.078 unit.
Artinya, untuk menyentuh batas bawah target, industri masih membutuhkan 2.037.539 unit pada empat bulan tersisa. Beban itu tidak ringan, tetapi pelaku industri menilai pola musiman semester kedua biasanya lebih ramai.
Ekspor CBU Ikut Melemah 15.515 Unit
Tekanan tidak hanya datang dari pasar domestik. AISI mencatat ekspor dalam bentuk utuh (CBU) dari lima anggota — Honda, Yamaha, Kawasaki, TVS, dan Suzuki — turun ke 50.254 unit pada Agustus, dari 65.769 unit pada Juli.
Selisih 15.515 unit itu menandakan pelemahan permintaan luar negeri turut membebani kinerja anggota asosiasi pada periode yang sama.
Motor Listrik Belum Bisa Dipastikan Jadi Penyebab
Soal kemungkinan peralihan konsumen ke sepeda motor listrik, Rifkie belum berani menyimpulkan. Ia menilai perlu analisis penjualan lebih dulu sebelum menarik kesimpulan.
"Perpindahan ke motor listrik ada enggak sih pengaruhnya? Saya harus analisa dulu dari penjualan," katanya.
Yamaha memilih menunggu data penjualan sebagai dasar evaluasi ketimbang berspekulasi. Namun Rifkie menegaskan proyeksi industri motor secara keseluruhan tetap lebih baik dibanding tahun sebelumnya.