Komposer Muda Padang Garap Ulang Prosesi Tagak Gala Marapulai Pauh Jadi Komposisi Musik "TA_GA" di Saraso Fest 2026

Penulis: Faisal Hasbi  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:46:01 WIB
Komposer Rianda Putra menampilkan komposisi "TA_GA" pada malam pementasan Saraso Fest 2026 di Padang, Kamis (1/10/2026).

PADANG — Rianda Putra, alumni SMK 7 Padang dan ISI Padang Panjang, membawa prosesi Tagak Gala Marapulai ke panggung Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Barat, Saraso Fest 2026. Komposisi berjudul "TA_GA" itu tidak mereproduksi prosesi secara utuh, melainkan menafsir ulang maknanya ke dalam bahasa musik.

Pementasan berlangsung Kamis (1/10/2026) malam di Padang. Rianda menggarap karya ini bersama para pemain dengan waktu latihan sekitar satu bulan.

Berangkat dari Pepatah "Ketek Dibari Namo, Gadang Dibari Gala"

Komposisi TA_GA berpijak pada filosofi adat Minangkabau tentang pemberian gelar kepada laki-laki dewasa. Ungkapan "Ketek dibari namo, gadang dibari gala" menjadi dasar penciptaannya.

Gala bukan sekadar sebutan. Ia penanda identitas, kedewasaan, dan kesiapan seorang marapulai memikul tanggung jawab baru dalam kaum dan sukunya.

"Malewakan gala namanya bang, mungkin di tiap daerah ada yang berbeda-beda prosesi dan kebetulan saya sumbernya dari Pauh. Di sana ada pertunjukan tarinya, ada silek, ada tari kain juga," ujar Rianda usai pementasan.

Ia menyebut banyak anak muda sekarang tidak lagi mengenal detail prosesi tersebut. Lewat musik, Rianda mencoba menafsirkan kembali suasana sakral, syair, dan pepatah-petitih yang hidup di dalam prosesi Tagak Gala.

Saluang dan Talempong Berdialog dengan Gitar Elektrik

Kekuatan TA_GA terletak pada eksplorasi bunyi dan perpaduan instrumennya. Rianda tidak terjebak pada pakem etnik murni.

Warna etnik Minang dihadirkan melalui tiupan saluang dan bansi, petikan kecapi, serta pukulan talempong dan bansi punggul yang menjadi roh prosesi Pauh. Di atas fondasi itu, ia menyusupkan gitar elektrik dan gitar bass untuk harmoni dan ritme kekinian.

Teknologi bunyi digital dipakai sebagai lapisan atmosfer. Perpaduan ini menciptakan ruang musikal baru yang dramatik dan magis, tapi tetap berakar pada tradisi.

Syair Tidak Dinyanyikan Literal, Ditransformasi Jadi Motif Melodi

Syair dan suasana prosesi tidak dinyanyikan secara literal. Keduanya ditransformasikan menjadi motif melodi, dinamika, dan tekstur musik.

Penonton diajak merasakan transisi dari seorang bujang menjadi marapulai bergelar. Bunyi bergerak dari lirih dan khusyuk menuju tegak, gagah, dan penuh tanggung jawab.

"Ini untuk mengembangkan musik tradisional ke digital. Pasar dan sasarannya kepada musisi, musisi budaya, dan musisi pangkalannya sendiri, bagaimana untuk mengenalkan musik kita sendiri," kata Rianda.

Regenerasi Komposer Tradisi di Sumatera Barat

Penampilan TA_GA di Saraso Fest 2026 menjadi penanda bahwa musik tradisi Minangkabau tidak berhenti di museum. Ia bisa hidup, berkembang, dan berdialog dengan zaman tanpa melepaskan identitasnya.

Rianda menyasar kalangan musisi dan pegiat budaya sebagai audiens utama karyanya. Melalui pendekatan ini, ia berharap musik tradisi Minang bisa dikenal lebih luas, termasuk oleh generasi muda yang mulai jauh dari prosesi adat di kampungnya.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: relasipublik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top