SOLOK — Wali Kota Solok H. Ramadhani Kirana Putra membuka rangkaian RSBG 2026 pada Sabtu (10/10/2026) lewat pawai budaya yang melibatkan perwakilan kelurahan dan nagari di kawasan Kubuang Tigo Baleh. Pembukaan itu menandai penyelenggaraan tahun kelima festival yang rutin digelar di Lapangan Merdeka.
Puluhan stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengisi area festival sepanjang empat hari. Beragam atraksi tradisional, permainan anak nagari, dan pertunjukan seni disiapkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.
Suasana pembukaan semarak lewat penampilan tari massal Tapak Kubuang Tigo Baleh yang dibawakan siswa-siswi SMP se-Kota Solok. Keterlibatan generasi muda ditempatkan sebagai bagian penting agar tradisi tetap dikenal dan diwariskan ke generasi berikutnya.
Unsur tradisi yang ditampilkan dalam pawai mencerminkan keberagaman budaya sekaligus kebanggaan warga terhadap identitas daerah. Ramadhani menyebut festival ini bukan sekadar perayaan seni.
"Rang Solok Baralek Gadang adalah cermin siapa kita, masyarakat Minangkabau yang teguh memegang adat, berpegang pada agama, dan bangga pada tanah kelahiran. Di sini kita hadir bukan hanya untuk menyaksikan seni, budaya, dan tradisi, tetapi juga untuk menyatukan hati, menumbuhkan harapan, serta merawat warisan untuk anak cucu kita," katanya.
Di tengah kemeriahan, ajakan mendoakan korban dan mendukung pemulihan masyarakat terdampak galodo Arosuka menjadi perhatian tersendiri. Nilai kebudayaan dinilai tidak hanya tampak lewat kesenian dan prosesi adat, tetapi juga melalui kepedulian serta semangat gotong royong antarwarga.
Memasuki hari kedua, Minggu (11/10/2026), RSBG menghadirkan prosesi Bakaua Turun ka Sawah yang diikuti Wali Kota Solok. Tradisi turun-temurun masyarakat Minangkabau itu mengandung nilai kebersamaan, rasa syukur, serta harapan akan keberkahan dan kesejahteraan.
Prosesi tersebut memperlihatkan eratnya hubungan antara masyarakat, alam, dan sektor pertanian. Tradisi tidak hanya ditampilkan sebagai agenda festival, tetapi diperkenalkan kembali melalui keterlibatan langsung warga.
Pengunjung juga disuguhi permainan anak nagari, Tari Piriang Ateh Karambia, serta penampilan spesial Ifan Seventeen. Ribuan orang dari Kota Solok dan daerah sekitarnya memadati Lapangan Merdeka untuk menikmati rangkaian kegiatan tersebut.
Pada pembukaan RSBG, Bundo Kanduang Kota Solok menyajikan makan baronjin, hidangan khas Minangkabau yang dilengkapi beragam kondimen. Sajian kuliner tradisional itu menjadi salah satu daya tarik festival selain pertunjukan seni.
Keikutsertaan RSBG 2026 dalam Karisma Event Nusantara (KEN) membuka peluang bagi Kota Solok memperluas jangkauan promosi budaya dan pariwisata. Anggota DPD RI, Irman Gusman, mengapresiasi penyelenggaraan festival dan berharap RSBG terus berkembang hingga dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Irman menilai pariwisata berbasis pertanian atau agrowisata layak dikembangkan. Lanskap persawahan yang erat dengan kehidupan masyarakat Solok dapat menjadi daya tarik tersendiri bila dikembangkan secara terencana, seiring perlindungan lahan pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani.
Pengunjung berpeluang mendapat pengalaman wisata lebih beragam, tidak hanya menonton pertunjukan festival, tetapi juga mengenal tradisi bertani, kuliner khas, lingkungan persawahan, dan kearifan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat.