SUMATERA BARAT — Anak Gen Alpha kini akrab dengan kata "aku stres" dan sering meremas squishy untuk menenangkan diri. Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, menjelaskan bagaimana orang tua sebaiknya merespons keluhan emosi anak dan kapan stres perlu diwaspadai.
Anak-anak generasi Alpha tumbuh di tengah aktivitas sekolah yang padat, pertemanan, dan paparan media sosial yang intens. Tekanan dari berbagai arah itu membuat sebagian dari mereka mencari cara menenangkan diri, salah satunya dengan meremas mainan sensorik seperti squishy.
Fenomena ini bukan tanda bahwa anak zaman sekarang lebih rentan mengalami gangguan psikologis dibanding generasi sebelumnya. Kepala Pusat Kajian Gender dan Anak (PKGA) IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, menilai keakraban anak dengan istilah stres berkaitan erat dengan lingkungan digital yang mereka tempati sejak dini.
Akses informasi yang luas lewat media sosial dan pergaulan membuat anak lebih sering terpapar istilah-istilah psikologis. Mereka pun memakai kata-kata itu untuk menggambarkan perasaannya sendiri.
Menurut Dr. Yulina, stres adalah respons alami saat seseorang menghadapi tekanan atau tuntutan tertentu. Pada anak, sumber tekanan bisa bermacam-macam: tuntutan akademik, jadwal kegiatan yang padat, paparan media digital berlebihan, konflik pertemanan, perundungan, hingga kurangnya komunikasi hangat dalam keluarga.
Ketika anak mengatakan "aku stres", respons pertama orang tua sebaiknya adalah mendengarkan dan mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak. Jangan langsung memberi penilaian atau nasihat.
"Ketika anak mengatakan 'Aku stres', respons pertama orang tua sebaiknya adalah mendengarkan dan mencari tahu apa yang sebenarnya dirasakan anak, bukan langsung memberikan penilaian atau nasihat," papar Dr. Yulina, dikutip dari laman resmi IPB University.
Keluhan anak sebaiknya tidak dianggap sepele. Mendengarkan tanpa menghakimi membuka ruang bagi anak untuk bercerita lebih terbuka soal apa yang membuatnya tertekan.
Mainan sensorik seperti squishy bisa membantu anak menyalurkan ketegangan lewat gerakan meremas. Namun, benda ini hanya alat bantu sesaat, bukan solusi dari akar masalah yang membuat anak stres.
Yang lebih penting adalah bagaimana orang tua menanggapi perasaan anak di balik kebiasaan meremas squishy. Tanpa pendampingan dan komunikasi yang hangat, mainan sensorik hanya menjadi pelarian tanpa penyelesaian.
Stres perlu mendapat perhatian serius ketika berlangsung berkepanjangan dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Dr. Yulina menyebut sejumlah tanda yang bisa diamati orang tua di rumah.
"Tandanya dapat berupa perubahan pola tidur, kehilangan minat bermain, mudah marah, menarik diri, atau keluhan fisik berulang tanpa penyebab medis yang jelas," ungkapnya.
Jika tanda-tanda itu muncul terus-menerus, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga profesional. Jangan menunggu sampai keluhan emosi anak mengganggu sekolah dan hubungan sosialnya.
Menemani anak mengenali dan mengelola emosinya butuh kesabaran, bukan sekadar menyediakan mainan penenang. Mendengarkan tanpa menghakimi adalah langkah pertama yang bisa ibu dan ayah lakukan hari ini.