SUMATERA BARAT — Keputusan penutupan akses itu diambil Senin (24/8/2026) setelah api dari endapan batu bara bawah tanah merembet ke permukaan dan melahap lahan di sekitar jalan. Tiupan angin kencang di lokasi mempercepat penjalaran api, sementara proses pembakaran di dalam tanah menciptakan rongga-rongga kosong yang membuat pondasi jalan kehilangan daya dukung.
Wali Kota Tarakan, Khairul, yang meninjau langsung lokasi kebakaran, menyatakan langkah teknis darurat akan segera dieksekusi bersama instansi terkait. Material batu bara yang masih menyala akan dikeruk, lalu area yang tergerus ditimbun kembali agar struktur tanah penyangga jalan pulih.
"Kami bersama stakeholder terkait akan segera melakukan tindakan teknis di lapangan, salah satunya mengeruk lapisan batubara yang menyala dan menimbun kembali area yang tergerus agar struktur tanah penyangga jalan kembali normal," kata Khairul, Senin (24/8/2026).
Fenomena ini bukan kebakaran lahan biasa. Lapisan batu bara yang berada di bawah permukaan tanah ikut terbakar akibat suhu udara yang menyengat selama musim kemarau. Panas yang terakumulasi membuat batu bara membara dalam waktu lama—bahkan bisa bertahan berminggu-minggu—sebelum akhirnya memicu kobaran api di permukaan.
Bahaya utamanya justru tidak terlihat dari atas. Saat lapisan batu bara terbakar habis, terbentuk rongga di bawah tanah. Jika rongga itu berada tepat di bawah badan jalan, permukaan aspal kehilangan penyangga dan berisiko runtuh sewaktu-waktu. Kondisi inilah yang membuat pihak berwenang memilih mengisolasi area ketimbang membiarkan kendaraan melintas di atas struktur yang labil.
Pengerukan lapisan batu bara yang masih menyala menjadi prioritas utama. Setelah material panas diangkat, proses penimbunan kembali dilakukan untuk memadatkan struktur tanah. Namun, pekerjaan ini tidak bisa selesai dalam hitungan hari—tim teknis harus memastikan tidak ada lagi titik bara di kedalaman yang bisa memicu kejadian serupa.
Belum ada perkiraan resmi kapan ruas Jalan Amal Lama bisa dilalui kembali. Selama masa penutupan, pengendara diarahkan ke jalur alternatif, sementara warga sekitar diminta waspada terhadap potensi asap tebal dan tanah yang masih panas di area terdampak.
Kejadian di Tarakan ini menjadi pengingat bahwa dampak kemarau panjang tidak hanya soal kekeringan dan gagal panen, tetapi juga ancaman bawah tanah yang baru terasa ketika infrastruktur mulai kehilangan pijakan. Penanganan yang cepat dan menyeluruh kini menjadi ujian bagi pemerintah kota untuk memastikan keselamatan warga dan memulihkan akses jalan secepatnya.