Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, menggenjot cakupan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan mengaktifkan tradisi gotong royong 'badoncek' yang melibatkan para perantau. Kolaborasi ini berhasil mendongkrak angka kepesertaan menjadi 419.588 jiwa atau 91,13 persen dari total penduduk per 1 Agustus.
PARIAMAN — Angka kepesertaan JKN di Padang Pariaman melonjak signifikan dalam tiga bulan terakhir. Data BPJS Kesehatan mencatat, per 1 Agustus, sebanyak 419.588 warga telah terlindungi program jaminan kesehatan nasional, naik dari 395.496 jiwa pada Mei lalu. Artinya, masih ada sekitar 40.864 jiwa yang belum terdaftar.
Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis menyebut, gerakan kepedulian perantau melalui tradisi 'badoncek' menjadi salah satu kunci percepatan pencapaian Universal Health Coverage (UHC) di daerahnya. Tradisi sumbangan sukarela ini telah berjalan sekitar dua tahun terakhir, khususnya digerakkan oleh perantau asal Kecamatan IV Koto Aur Malintang.
Peran Perantau dan Donatur dalam Menutup Iuran Warga
Dana yang terkumpul dari 'badoncek' digunakan untuk membayarkan iuran warga yang belum memiliki kemampuan finansial. Selain dari perantau, pemerintah daerah juga menggandeng perusahaan melalui dana tanggung jawab sosial (CSR) serta 13 donatur dari kalangan dokter dan pengelola klinik.
"Kolaborasi ini telah memberikan manfaat terhadap sekitar 2.200 jiwa," kata John Kenedy Azis di Pariaman, Senin.
Pemkab Padang Pariaman tidak berhenti di situ. Pemanfaatan pokok-pokok pikiran anggota DPRD setempat juga diupayakan untuk mendukung pembiayaan kepesertaan JKN. Langkah ini ditempuh agar sumber pembiayaan tidak hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Edukasi Massif dan Dukungan BPJS Kesehatan
Di sisi lain, pemerintah daerah terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya kepesertaan JKN dan pembayaran iuran secara mandiri. Sosialisasi dilakukan melalui berbagai media, termasuk baliho dan media sosial.
Langkah Pemkab Padang Pariaman ini mendapat apresiasi dari Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan, Setiaji. Menurutnya, tradisi 'badoncek' membuktikan bahwa budaya gotong royong masyarakat bisa dikembangkan menjadi inovasi sosial untuk mendukung keberlangsungan program JKN.
"Kami melihat langsung bagaimana pemerintah daerah, nagari, dan para perantau mampu menghadirkan solusi melalui tradisi 'badoncek' untuk membantu masyarakat mendapatkan perlindungan jaminan kesehatan. Ini adalah inovasi sosial yang sangat baik dan layak menjadi contoh bagi daerah lainnya," ujarnya.
Kerja Sama dengan Nagari dan Target UHC
Pada Juni lalu, BPJS Kesehatan Cabang Padang juga telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Nagari III Koto Aur Malintang Selatan. Kerja sama ini memastikan iuran kepesertaan JKN warga setempat dibiayai oleh para perantau secara berkelanjutan.
Setiaji optimistis kolaborasi antara pemerintah daerah, nagari, dan perantau ini dapat mempercepat pencapaian UHC di Padang Pariaman. Dengan tren kenaikan kepesertaan yang signifikan, target menjamin seluruh penduduk kabupaten tersebut bukan lagi sekadar wacana.