SUMATERA BARAT — Setiap tahun, jutaan bayi di seluruh dunia lahir prematur dan membutuhkan perawatan intensif. Salah satu teknologi paling vital dalam perawatan ini adalah inkubator. Namun, tahukah Ibu bagaimana perjalanan panjang alat penyelamat nyawa ini hingga bisa kita lihat sekarang di rumah sakit?
Kisah ini bermula dari sebuah harapan kecil di New York, jauh sebelum teknologi canggih seperti sekarang ada. Seorang bayi mungil bernama Edith Eleanor McLean menjadi pionir yang membuktikan bahwa hidup bisa dipertahankan bahkan dalam kondisi paling rapuh sekalipun.
Pada 7 September 1888, Edith lahir prematur di State Emigrant Hospital, Ward's Island, New York. Beratnya kurang dari 3 pon atau sekitar 1,3 kilogram, sebuah kondisi yang pada masa itu sering dianggap sebagai vonis kematian.
Merawat bayi prematur kala itu dianggap membuang-buang biaya karena tingkat kelangsungan hidupnya sangat rendah. Namun, dokter William Champion Deming memiliki keyakinan berbeda. Ia memperkenalkan Edith pada sebuah mesin bernama inkubator, yang terinspirasi dari tempat yang tak terduga: kebun binatang.
Gagasan inkubator bayi tidak lahir dari laboratorium mewah, melainkan dari pengamatan sederhana. Dokter spesialis kebidanan asal Prancis, Stéphane Tarnier, mendapat inspirasi setelah melihat cara kerja mesin penetas telur unggas di kebun binatang Paris.
Dari situlah konsep wadah penghangat untuk bayi prematur mulai dikembangkan. Inkubator versi awal ini masih sangat manual, dipanaskan dengan tangki air yang harus dijaga suhunya. Para perawat harus bergantian mengganti air panas hingga 57 liter setiap kali suhunya mulai mendingin. Sebuah perjuangan yang luar biasa untuk menjaga Edith tetap hangat.
Uniknya, teknologi ini justru populer bukan lewat ranah medis, melainkan tempat hiburan. Martin Couney, pengusaha Jerman yang anaknya sendiri lahir prematur, memamerkan bayi-bayi prematur dalam inkubator di Coney Island, New York. Pengunjung dikenakan tarif 25 sen untuk melihat para bayi mungil itu.
Meski sempat menuai kontroversi, Couney tidak pernah memungut biaya dari orang tua bayi. Uang tiket masuk itulah yang ia gunakan untuk membiayai perawatan medis mereka selama 40 tahun pameran berlangsung. Berkat kegigihannya, banyak nyawa terselamatkan dan masyarakat mulai melihat pentingnya alat ini.
Teknologi inkubator baru berkembang menjadi modern dengan kontrol suhu dan kelembapan otomatis setelah era Perang Dunia II. Kini, alat ini menjadi standar emas di setiap unit perawatan intensif neonatal (NICU) di seluruh dunia.
Salah satu penyintas yang membuktikan keberhasilan inkubator adalah Beth Allen. Ia adalah bayi prematur yang dirawat oleh Couney dan merasakan langsung manfaat alat tersebut. "Tidak ada orang lain yang menawarkan bantuan apa pun untuk menyelamatkan saya kala itu. Tanpa Martin Couney, saya tidak akan memiliki kehidupan," kenang Allen.
Kisah Edith dan perjuangan para dokter serta perawat di masa itu mengingatkan kita bahwa setiap kemajuan medis berawal dari keberanian untuk mencoba. Teknologi yang kini terasa biasa di rumah sakit adalah hasil dari dedikasi panjang untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa.