SUMATERA BARAT — Praktisi minyak dan gas bumi Hadi Ismoyo memperkirakan harga Pertalite bisa mencapai Rp17.200 per liter jika dijual secara komersial tanpa dukungan subsidi dan kompensasi pemerintah. Perkiraan itu memakai asumsi harga minyak mentah Brent rata-rata US$100 per barel dan nilai tukar rupiah Rp17.800 per dolar AS. Saat ini, harga Pertalite masih ditetapkan Rp10.000 per liter dan solar bersubsidi Rp6.800 per liter.
Harga Pertalite saat ini Rp10.000 per liter. Jika dihitung secara komersial, angkanya bisa menyentuh Rp17.200 per liter dengan yield 0,65. Untuk solar, harga keekonomiannya diperkirakan sekitar Rp16.000 per liter dengan yield diesel 0,7, sementara harga jual bersubsidi masih Rp6.800 per liter.
"Kalau Pertalite secara komersial bisa sekitar Rp17.200 per liter dengan yield 0,65. Kemudian solar sekitar Rp16.000 dengan yield diesel 0,7," kata Hadi.
Selisih itu, menurut Hadi, menunjukkan besarnya peran subsidi dalam menahan harga BBM yang dikonsumsi masyarakat. Harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah menjadi dua faktor yang perlu diperhatikan karena keduanya memengaruhi kebutuhan anggaran subsidi.
Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan minyak. Hadi menyebut impor minyak mentah mencapai sekitar 1,2 juta barel per hari, sedangkan impor bensin dan solar sekitar 350.000 barel per hari.
Konsumsi BBM nasional diperkirakan mencapai sekitar 90 juta kiloliter (KL) per tahun. Sekitar 60 persen di antaranya merupakan BBM yang mendapatkan subsidi, dengan perkiraan volume BBM bersubsidi mencapai 56 juta KL.
Setiap kenaikan subsidi sebesar Rp1.000 per liter diperkirakan menambah kebutuhan anggaran sekitar Rp56 triliun dalam setahun. Untuk tiga bulan terakhir 2026, tambahan kebutuhan subsidi diperkirakan mencapai sekitar Rp14 triliun.
Harga minyak mentah saat ini berada pada level tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan pasokan energi. Kondisi itu membuat perhitungan subsidi semakin sensitif terhadap pergerakan harga dunia dan kurs rupiah.
Meski terdapat perbedaan antara harga subsidi dan perkiraan harga keekonomian, harga Pertalite dan solar bersubsidi saat ini belum berubah. Pemerintah sebelumnya memastikan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan hingga akhir 2026.
Masyarakat yang ingin memastikan harga resmi di wilayahnya dapat memantau kanal resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PT Pertamina (Persero). Waspadai informasi harga BBM yang beredar di grup pesan singkat tanpa sumber jelas, dan laporkan praktik penjualan di atas harga ketetapan melalui kanal pengaduan resmi Pertamina maupun Kementerian ESDM.