SUMATERA BARAT — Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung menggelar khutbah bertema "Nilai Menjadi Aksi, Ilmu Menjadi Bakti" yang menghubungkan peringatan Hari Kesaktian Pancasila dengan refleksi atas peristiwa kelam 1965. Kegiatan ini menekankan bahwa nilai persatuan dan keadilan baru bermakna jika dibuktikan melalui tindakan nyata, bukan sekadar seremonial. Momentum ini relevan bagi generasi muda yang perlu belajar dari sejarah tanpa mewarisi kebencian.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 mengusung tema "Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur." Menurut khutbah yang disampaikan, peringatan semacam ini semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.
Sejarah mesti melahirkan pelajaran. Nilai mesti melahirkan tindakan. Pengetahuan mesti melahirkan kebijaksanaan. Pesan itu disampaikan untuk mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh berubah menjadi permusuhan, kekuasaan tidak boleh meninggalkan keadilan, dan kepentingan tidak boleh mengalahkan kemanusiaan.
Dalam khutbahnya, penceramah menyebut setidaknya empat ikhtiar yang perlu direnungkan bersama. Berikut rangkumannya:
Khutbah ini mengutip QS. Ash-Shaff [61]: 2–3 yang menegur orang-orang beriman yang mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan. Ayat tersebut menjadi dasar pesan bahwa harus ada kesatuan antara nilai dan tindakan, antara perkataan dan perbuatan.
Rasulullah Saw. juga mengajarkan doa memohon ilmu yang bermanfaat (??????? ????????), rezeki yang baik, dan amal yang diterima, sebagaimana diriwayatkan HR. Ibnu Majah. Doa ini menegaskan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang membawa manfaat nyata.
Menurut khutbah tersebut, Pancasila memperoleh makna sosial bukan hanya ketika dibacakan, tetapi ketika nilai ketuhanan melahirkan akhlak, kemanusiaan melahirkan penghormatan terhadap sesama, dan persatuan mengalahkan ego kelompok. Musyawarah mesti menghindarkan kesewenang-wenangan, sementara keadilan hadir dalam kehidupan bersama.
Rangkaian pesan ini mengingatkan bahwa nilai yang hidup adalah nilai yang bekerja. Nilai menuntun sikap, sikap melahirkan tindakan, dan tindakan yang konsisten membentuk integritas. Ilmu melahirkan kompetensi, kompetensi melahirkan karya, dan karya yang diarahkan kepada kemaslahatan menjadi bakti.
Bagi sivitas akademika dan masyarakat luas, khutbah ini menjadi pengingat bahwa merawat persatuan dan keadilan menuntut pembuktian dalam amal nyata. Sejarah yang dipelajari dengan jernih seharusnya membuat generasi berikutnya semakin arif, bukan mewarisi kebencian.