Project Hail Mary Disebut Film Paling Rumit yang Pernah Digarap Greig Fraser

Penulis: Teuku Fahreza  •  Sabtu, 10 Oktober 2026 | 20:02:31 WIB
Sinematografer Greig Fraser menyebut Project Hail Mary sebagai film paling rumit yang pernah ia garap.

SUMATERA BARAT — Sinematografer peraih Oscar Greig Fraser menyebut Project Hail Mary sebagai film paling rumit yang pernah ia garap sepanjang kariernya. Pengakuan itu ia sampaikan dalam sesi Deadline Contenders London, membahas tantangan teknis syuting di set berbentuk lingkaran tanpa gravitasi. Film ini telah meraup 684,5 juta dolar AS di box office global.

Greig Fraser bukan nama baru di produksi film berskala besar. Ia menangani sinematografi untuk Dune, The Batman, Rogue One, hingga Zero Dark Thirty. Namun, dari deretan proyek itu, Project Hail Mary disebutnya berada di level kesulitan yang berbeda.

Tantangan Teknis di Set Berbentuk Lingkaran

Salah satu kendala terbesar datang dari desain set yang sempit dan melingkar. Menurut Fraser, hampir setiap hari pengambilan gambar menghadirkan persoalan baru yang harus dipecahkan di lokasi.

"Every day was the most complicated day," ujarnya. "How do you capture a puppet without a face in a rolling circle with no gravity. Then there are stairs and steps to factor in. Everything was a challenge, but an awesome challenge."

Production designer Charles Wood menambahkan bahwa banyak set hanya berdiameter delapan hingga sepuluh kaki. Ukuran itu membuat kamera harus ditempatkan di hampir setiap sudut ruangan. Tujuannya agar penonton benar-benar merasa berada di dalam kapal bersama tokoh utama.

Mengutamakan Efek Praktis dan Akurasi Sains

Project Hail Mary menonjol karena tidak bergantung berlebihan pada CGI. Wood menyebut pendekatan itu sebagai upaya menjaga keaslian, termasuk menghadirkan karakter alien bernama Rocky lewat kerja tim dalang.

"I didn’t realize coming onto the film that this would all be essentially live action," kata Wood. "Working with a team of puppeteers on a set of a certain diameter was a real challenge."

Fraser menilai keputusan tersebut sejalan dengan gaya Phil Lord dan Christopher Miller sebagai sutradara. Efek visual tetap dipakai, tetapi hanya pada momen yang benar-benar membutuhkan.

Riset tim produksi melibatkan para astronaut NASA. Salah satu cerita yang mereka dengar adalah pengalaman seorang astronaut yang menangis saat melihat Bumi dari angkasa, namun air matanya tidak jatuh karena gravitasi. Pandangan matanya pun kabur saat memandang planet itu dari dalam pesawat.

Sinopsis dan Capaian Box Office

Dalam film ini, Ryan Gosling berperan sebagai guru sains bernama Ryland Grace. Ia terbangun di sebuah kapal antariksa, jauh dari Bumi, tanpa ingatan tentang siapa dirinya atau bagaimana ia bisa sampai di sana.

Seiring ingatannya kembali, Grace menyadari misinya: memecahkan teka-teki zat misterius yang membuat Matahari sekarat. Ia harus mengandalkan pengetahuan sains dan gagasan tak lazim untuk menyelamatkan Bumi dari kepunahan.

Project Hail Mary juga dibintangi Sandra Hüller, Lionel Boyce, Ken Leung, dan Milana Vayntrub. Film produksi Amazon MGM ini mencatat pendapatan 684,5 juta dolar AS di box office global.

Peluang Sekuel Masih Terbuka

Penulis novel sumber cerita, Andy Weir, pernah menyebut tengah menulis novel lain yang masih berkaitan dengan kisah ini. Fraser mengaku baru mendengar kabar tersebut dalam sesi itu.

"That’s the first I’m hearing about it," katanya singkat.

Film ini diproduseri Amy Pascal, Ryan Gosling, Phil Lord, Christopher Miller, Andy Weir, Aditya Sood, dan Rachel O’Connor.

Kombinasi efek praktis dan akurasi sains membuat Project Hail Mary menjadi salah satu produksi antariksa yang paling diperhatikan sineas tahun ini.

Reporter: Teuku Fahreza
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top