SUMATERA BARAT — Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali erupsi pada Selasa (13/10/2026) pukul 12.02 WIB, meski visual letusan tidak teramati dari permukaan. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 16,6 milimeter dan durasi 38 detik. PVMBG masih mempertahankan tingkat aktivitas gunung ini di Level II atau Waspada.
Sepanjang sepekan terakhir, Gunung Marapi tercatat hanya sekali meletus. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia melaporkan bahwa letusan terbaru tidak menghasilkan visual yang bisa diamati langsung, namun getarannya terekam jelas di alat pemantau.
Pengamatan kegempaan pada 13 Oktober 2026 pukul 00.00-23.59 WIB mencatat sejumlah aktivitas di tubuh gunung. Terjadi 1 kali gempa hembusan dengan amplitudo 3,2 milimeter dan lama gempa 59 detik.
Selain gempa hembusan, instrumen PVMBG mendeteksi 5 kali gempa vulkanik dalam dengan amplitudo 2,9-3,2 milimeter, s-p 1,4-3,9 detik, dan lama gempa 8-21 detik. Tercatat pula 3 kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 3,1-3,2 milimeter, s-p 7,6-8 detik, dan lama gempa 18-22 detik.
Kombinasi gempa hembusan, vulkanik dalam, dan tektonik lokal itu menjadi dasar PVMBG mempertahankan status Gunung Marapi di Level II (Waspada).
PVMBG menghimbau masyarakat di sekitar Gunung Marapi, termasuk pendaki, pengunjung, dan wisatawan, agar tidak memasuki dan tidak melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek. Larangan ini berlaku selama status Waspada belum diturunkan.
Bagi traveler yang sedang merencanakan pendakian atau kunjungan ke kawasan Gunung Marapi, informasi terkini soal status dan rekomendasi jalur dapat dikonfirmasi melalui pos pengamatan PVMBG setempat atau kanal resmi MAGMA Indonesia.
Selama tahun 2026, MAGMA Indonesia telah merekam 5.092 letusan gunung api di seluruh Indonesia. Gunung Semeru di Jawa Timur menjadi yang paling sering erupsi dengan 1.979 kali letusan, sedangkan Gunung Marapi tercatat 58 kali erupsi.
Data itu menempatkan Marapi sebagai salah satu gunung paling aktif di Tanah Air, meski frekuensinya jauh di bawah Semeru. Pemantauan berkelanjutan tetap dilakukan PVMBG mengingat gunung ini berada di kawasan padat aktivitas warga dan pendaki.