Satelit NASA Deteksi Karbon Monoksida Pekat di Langit Indonesia

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 10:07:31 WIB
Satelit NASA menangkap sebaran karbon monoksida berkonsentrasi tinggi di atmosfer Indonesia pada 13–15 Oktober 2026.

SUMATERA BARAT — Satelit NASA menangkap sebaran karbon monoksida berkonsentrasi tinggi di atmosfer Indonesia dan sebagian Asia Tenggara pada 13-15 Oktober 2026. Visualisasi Eyes on the Earth menampilkan area merah tua membentang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua pada ketinggian sekitar 500 milibar.

Warna merah menandakan konsentrasi gas yang lebih tinggi dibanding wilayah lain. Sebagian besar kepulauan Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua, masuk dalam area dengan intensitas warna tersebut.

Apa yang Ditunjukkan Peta NASA

Visualisasi tersebut menampilkan data karbon monoksida harian pada ketinggian sekitar 500 milibar (mb) di atmosfer. Pada lapisan ini, gas yang terdeteksi tidak selalu berasal dari sumber di bawahnya, karena massa udara dapat bergerak membawa polutan melintasi wilayah yang luas.

Wilayah di bagian utara dan selatan peta justru didominasi warna kuning, hijau, dan biru. Perbedaan warna itu memperlihatkan variasi konsentrasi karbon monoksida yang terdeteksi pada lapisan atmosfer yang dipantau.

Dari Mana Karbon Monoksida Berasal

Karbon monoksida terbentuk dari pembakaran tidak sempurna bahan yang mengandung karbon. Kebakaran hutan dan lahan, pembakaran biomassa, serta aktivitas manusia seperti penggunaan bahan bakar fosil menjadi sumber utama gas ini.

Dalam kondisi tertentu, karbon monoksida dari kebakaran dapat terbawa angin dan menyebar jauh dari lokasi sumbernya. Pengamatan satelit membantu ilmuwan memetakan persebaran gas tersebut dalam cakupan wilayah yang luas dan sulit dijangkau pengukuran darat.

Bukan Penunjuk Langsung Lokasi Kebakaran

Peta karbon monoksida tidak serta-merta menunjukkan titik kebakaran secara langsung. Konsentrasi tinggi bisa berkaitan dengan berbagai sumber emisi dan dipengaruhi pergerakan massa udara.

Untuk mengetahui penyebab kemunculannya di suatu wilayah, data satelit perlu dibandingkan dengan informasi kebakaran, kondisi angin, serta pengamatan atmosfer lainnya. Tanpa konteks itu, pembacaan peta berisiko menyesatkan.

Beda Atmosfer Atas dan Udara yang Dihirup

Konsentrasi karbon monoksida di atmosfer atas berbeda dengan kualitas udara yang dihirup masyarakat di permukaan. Visualisasi pada ketinggian 500 mb tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan tingkat paparan karbon monoksida di permukiman atau risiko kesehatan penduduk.

Data semacam ini lebih tepat dibaca sebagai salah satu petunjuk untuk menelusuri pergerakan polutan. Kesimpulan soal dampak kesehatan tetap memerlukan pengukuran di permukaan dan konteks dari pengamatan lain.

Melalui Eyes on the Earth, NASA menyediakan visualisasi data pengamatan Bumi yang membantu publik melihat fenomena atmosfer dan lingkungan dalam skala regional maupun global. Bagi ilmuwan dan pemantau lingkungan di Indonesia, data ini bisa menjadi pintu masuk untuk menelusuri pergerakan polutan lintas wilayah, terutama pada periode kebakaran lahan.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top