SUMATERA BARAT — Laba bersih Tesla turun 44 persen menjadi USD787 juta (sekitar Rp14 triliun) pada kuartal III-2026, meski pendapatan stagnan di USD28 miliar. Penurunan terjadi saat komite khusus di Tesla dan SpaceX membahas kemungkinan merger kedua perusahaan. Arus kas bebas produsen kendaraan listrik itu justru naik menjadi USD1,5 miliar.
Tesla melaporkan kinerja keuangan kuartal III-2026 yang berakhir September dengan tekanan di sisi laba. Pendapatan perusahaan stagnan di angka USD28 miliar sepanjang Juli–September, sedikit di bawah perkiraan sejumlah analis pasar.
Laporan yang dikutip dari AP menyebut pelemahan laba ini bukan kejutan. Banyak analis sudah memperkirakan penurunan karena Tesla menggelontorkan belanja besar untuk pengembangan kecerdasan buatan.
Di tengah penurunan laba, arus kas bebas Tesla justru melonjak menjadi USD1,5 miliar. Angka ini menjadi sinyal bahwa perusahaan mulai mengubah cara mengelola pengeluaran.
Analis Morningstar Seth Goldstein menilai Tesla memilih jalur yang lebih hemat modal. "Tampaknya Tesla mengambil pendekatan yang lebih efisien secara modal, menunda proyek jangka panjang untuk dapat membiayai sendiri pertumbuhan AI mereka," kata Goldstein.
Strategi menunda proyek jangka panjang itu dinilai memberi ruang bagi Tesla untuk membiayai ambisi AI tanpa bergantung pada pendanaan eksternal. Efeknya terlihat pada arus kas yang tetap positif meski laba tertekan.
Isu merger mencuat dalam konferensi pers SpaceX usai perusahaan itu melaporkan pendapatan. Elon Musk menyatakan penggabungan yang selama ini baru sebatas rumor dengan Tesla mungkin sedang berjalan.
Musk mengungkapkan komite khusus telah dibentuk di masing-masing perusahaan untuk membahas kemungkinan penggabungan. Ia juga memperingatkan masih banyak rintangan yang harus dilalui sebelum wacana itu menjadi kenyataan.
Saat konferensi pers Tesla, Musk menolak membahas lebih jauh soal kemungkinan merger tersebut. Sikap itu menyisakan tanda tanya soal arah konsolidasi bisnis-bisnis di bawah kendali Musk.
Penurunan laba 44 persen year-on-year mencerminkan beban investasi AI yang besar. Namun lonjakan arus kas bebas menunjukkan Tesla mulai menyeimbangkan belanja ekspansi dengan disiplin keuangan.
Bagi pasar kendaraan listrik global, kinerja ini menjadi acuan soal seberapa jauh produsen mobil listrik mampu menahan biaya teknologi otonom dan AI. Pendapatan yang stagnan menandakan pertumbuhan penjualan belum agresif.
Keputusan menunda proyek jangka panjang disebut Goldstein sebagai langkah efisiensi. Dampaknya, prioritas perusahaan bergeser ke pembiayaan pertumbuhan AI secara mandiri ketimbang mengejar ekspansi serentak di semua lini.