PARIAMAN — Wali Kota Pariaman Yota Balad membuka langsung pelatihan yang dihadiri puluhan relawan dari berbagai unsur. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa perempuan dan anak-anak kerap menjadi pihak paling berisiko mengalami trauma psikologis ketika bencana atau situasi darurat terjadi.
Materi pelatihan mencakup teknik memberi rasa aman, mendengarkan secara empatik, memenuhi kebutuhan mendesak, hingga memfasilitasi akses layanan bagi korban. Pelatihan berlangsung dua hari penuh, 14 hingga 15 Oktober 2026.
Mengapa Relawan Perlu Kuasai Bantuan Psikologis Pertama
Yota Balad menyatakan kehadiran relawan dengan keahlian PFA menjadi kebutuhan mutlak di lapangan. Menurutnya, penanganan bencana tidak cukup berhenti pada evakuasi fisik.
"Oleh karena itu, kehadiran relawan yang memiliki keahlian Psychological First Aid (bantuan pertama psikologis) mutlak diperlukan di lapangan. Bagaimana memberikan rasa aman, mendengarkan secara empatik, membantu memenuhi kebutuhan mendesak, serta memfasilitasi akses terhadap layanan yang dibutuhkan," ujar Yota Balad.
Ia menambahkan pelatihan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah kota memperkuat kapasitas sumber daya manusia di wilayahnya.
Perlindungan Emosional hingga Penanganan Kasus di Posko
Peserta dibekali keterampilan mencegah kekerasan yang berpotensi muncul di posko pengungsian. Relawan juga dilatih menangani kasus kekerasan berbasis gender yang bisa terjadi saat situasi darurat.
"Kita ingin para relawan tidak hanya sigap dalam melakukan evakuasi fisik, tetapi juga mampu memberikan perlindungan emosional, melakukan pencegahan dini, serta menangani kasus kekerasan yang berpotensi terjadi di posko pengungsian," tambah Yota Balad.
Ia berpesan agar peserta mengikuti seluruh materi dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan kesempatan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan.
"Jadilah relawan yang tidak hanya sigap dalam memberikan bantuan, tetapi juga mampu menghadirkan ketenangan, harapan, dan rasa kemanusiaan bagi sesama," tutupnya.
Narasumber dan Peserta Pelatihan
Pelatihan ini menghadirkan Plt Kepala DP3AKB Kota Pariaman Ika Septia Maulana beserta seluruh jajaran sebagai narasumber. Sebanyak 51 relawan tercatat sebagai peserta kegiatan yang digelar di Aula Pertemuan RM Sambalado, Desa Simpang.
Kegiatan menyasar relawan yang bertugas pada penanganan kekerasan berbasis gender di lokasi bencana dan darurat. Kota Pariaman berada di pesisir barat Sumatera yang memiliki risiko gempa dan tsunami, sehingga kesiapsiagaan relawan menjadi bagian penting mitigasi.