PADANG — Lebih dari 100 juta sel saraf di usus menjadikannya "otak kedua" yang memproduksi hormon kebahagiaan. Jika mikrobiota usus terganggu, kadar serotonin turun drastis. Risiko gangguan mental seperti depresi pun meningkat.
Fakta ini diungkap Dr. dr. Susmiati, M.Biomed dalam seminar tentang hubungan mood, stres, dan pola makan. Ia menjelaskan, rasa cemas di perut bukan sekadar perasaan. Itu bukti nyata komunikasi dua arah antara otak dan sistem saraf enterik, dikenal sebagai konsep gut-brain axis.
Fenomena emotional eating menjadi sorotan utama. Kebiasaan makan karena dorongan emosi—stres, sedih, atau bosan—memicu gangguan keseimbangan usus dan masalah kesehatan mental.
"Makanan yang kita konsumsi tidak hanya memengaruhi tubuh, tetapi juga emosi, stres, dan kesehatan mental," tegas dr. Susmiati. Pola makan buruk memperparah kecemasan dan depresi seseorang.
Seminar yang dimoderatori Prof. Dr. Dra. Yuli Yetri, M.Si. ini memberikan strategi praktis: pola makan seimbang, hidrasi cukup, tidur berkualitas, olahraga ringan, dan praktik mindful eating.
Pesan paling kuat adalah peran sentral ibu sebagai pengatur nutrisi sekaligus teladan gaya hidup sehat. Ibu yang sehat menciptakan keluarga yang lebih sehat, bahagia, dan produktif.
Acara di lingkungan kampus PNP ini dihadiri puluhan peserta dari kalangan akademisi dan masyarakat umum. Pemahaman tentang koneksi otak-usus diharapkan mendorong perubahan kebiasaan makan yang lebih sadar dan sehat di tengah keluarga Indonesia.