Jika 2025 ditandai dengan perang fisik yang meluas, 2026 membuktikan bahwa pertempuran juga terjadi di ranah digital — dan dampaknya sama nyatanya. Serangan tidak lagi hanya menyasar perusahaan teknologi, melainkan langsung menghantam jaringan listrik, instalasi air minum, hingga sistem pengawasan federal. Di Indonesia, ancaman ini patut dicermati karena pola serangan yang sama berpotensi menimpa infrastruktur kritis yang perlindungannya masih timpang.
Kasus paling mencengangkan datang dari dalam negeri Amerika sendiri. Kelompok yang menamakan diri Department of Government Efficiency (DOGE) — dipimpin oleh Elon Musk — disebut telah mengunggah salinan langsung database Jaminan Sosial AS ke server pihak ketiga yang tidak diamankan. Server itu berisi nomor Jaminan Sosial dan data pribadi hampir seluruh warga Amerika yang masih hidup.
Dua anggota DPR AS dari Partai Demokrat yang menyelidiki aktivitas DOGE menyebut kebocoran ini "bisa jadi pelanggaran data terbesar dalam sejarah bangsa ini." Dalam dokumen pengadilan, Administrasi Jaminan Sosial (SSA) mengaku tidak tahu persis apa yang ada di server tersebut. Yang jelas, DOGE menandatangani perjanjian dengan kelompok advokasi politik luar dengan dalih mencari bukti kecurangan pemilih — klaim yang terus digaungkan Presiden Trump tanpa bukti.
Kekhawatiran terbesar: database itu bisa disalahgunakan untuk menargetkan warga AS atas alasan yang tidak jelas.
Gelombang serangan siber juga menerjang Eropa, terutama menyasar instalasi energi dan air. Polandia menjadi korban berulang: pertama, malware penghancur komputer menyerang jaringan listriknya pada akhir 2025, lalu awal 2026 giliran instalasi pengolahan air yang dibobol. Swedia dan Norwegia juga tak luput — sebuah bendungan di Norwegia bahkan sampai kehilangan air sebanyak volume kolam renang akibat peretasan.
Serangan ini mayoritas dikaitkan dengan Rusia, sebagai bagian dari perang hibrida yang meluas dari Ukraina ke seluruh benua. Pola ini menjadi peringatan bagi negara-negara seperti Indonesia, yang infrastruktur air dan kelistrikannya masih rentan terhadap serangan serupa jika tidak segera diperkuat.
Iran juga mencatat eskalasi signifikan. Pada Maret 2026, peretas yang disponsori pemerintah Iran menyerang perusahaan alat medis AS, Stryker. Mereka tidak hanya mencuri data — mereka menghapus puluhan ribu perangkat karyawan dari jarak jauh dalam satu serangan, melumpuhkan operasi perusahaan selama berhari-hari. Dampaknya nyata: Stryker mencatat kerugian material pada pendapatan kuartal pertama.
Pemerintah AS mengaitkan kelompok peretas ini dengan salah satu cabang intelijen Iran. Perubahan taktik ini menandai babak baru: Iran tidak lagi sekadar mencuri data untuk keuntungan politik, tapi mulai melakukan sabotase destruktif sebagai bentuk balasan atas perang di Timur Tengah.
Kelompok peretas ShinyHunters juga tidak berhenti. Mereka menggunakan teknik voice phishing yang sederhana namun efektif: berpura-pura menjadi staf IT atau karyawan yang lupa kata sandi. Target terbaru mereka adalah Instructure, perusahaan di balik platform pembelajaran Canvas yang digunakan jutaan pelajar dan pengajar global.
ShinyHunters berhasil menembus sistem internal Canvas dan mencuri data pribadi serta informasi sensitif pengguna. Ini menjadi pengingat bahwa ancaman tidak selalu datang dari kode rumit — kadang cukup dari suara di ujung telepon.
Dengan setengah tahun 2026 masih tersisa, para ahli memperingatkan bahwa serangan-serangan ini bukanlah puncak, melainkan awal dari eskalasi yang lebih luas. Bagi Indonesia, pelajaran paling jelas adalah: keamanan siber bukan lagi urusan divisi IT, melainkan prioritas nasional.