Universitas Andalas Bantu UMKM Kerupuk Ubi Kamang di Agam dengan Dome Pengeringan, Target Tembus Pasar Internasional

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 19:15:16 WIB
Tim Fateta Unand memperkenalkan dome pengeringan untuk mendukung produksi kerupuk ubi di Agam.

BUKITTINGGI — Selama ini, perajin kerupuk ubi kayu di Nagari Koto Tangah, Agam, hanya mengandalkan sinar matahari untuk mengeringkan produk mereka. Ketika musim hujan tiba, produksi terhenti dan kualitas kerupuk kerap menurun. Kondisi itulah yang mendorong Tim Pengabdian Masyarakat Fateta Unand untuk turun tangan.

Rumah Pengeringan Berteknologi Tepat Guna untuk 20 Nampan

Ketua Tim, Mislaeni, menjelaskan bahwa dome pengeringan yang mereka rancang berukuran 1x2 meter dan berbentuk ruang tertutup di ruang terbuka. Konstruksinya menggunakan rangka hollow galvanis anti karat yang bisa dibongkar pasang.

"Dilengkapi dengan kipas sirkulasi dan exhaust fan untuk mengatur kelembaban dan suhu secara otomatis. Rumah pengeringan ini menggunakan sistem rak yang mampu menampung sekitar 20 nampan dalam sekali proses pengeringan," kata Mislaeni, Jumat (10/7).

Dengan alat ini, proses pengeringan menjadi lebih cepat, higienis, dan tidak lagi terganggu oleh cuaca buruk. Bentuk produk yang dihasilkan pun lebih baik dibandingkan penjemuran terbuka.

Tak Cuma Alat: Pendampingan Rasa, Kemasan, dan Legalitas Usaha

TPM Fateta Unand tidak hanya memberikan teknologi tepat guna. Mereka juga mendampingi para pelaku UMKM dalam diversifikasi produk, seperti pengembangan variasi rasa kerupuk. Selain itu, tim dosen membantu perbaikan desain label kemasan dan mengurus legalitas usaha.

Pendampingan yang melibatkan sekitar 50 mahasiswa ini direncanakan berlangsung selama enam bulan. Targetnya, UMKM Kerupuk Ubi Kamang tidak hanya berjaya di pasar lokal Sumatera Barat, tetapi juga menembus pasar internasional.

Walinagari: Separuh Jorong di Koto Tangah Punya Usaha Kerupuk

Walinagari (Kepala Desa) Koto Tangah, Amrizal Gunawan, menyambut positif program ini. Ia menyebut, hampir separuh dari total 28 jorong di wilayahnya memiliki unit usaha pengolahan kerupuk kamang.

"Pihak universitas telah melakukan pembinaan terkait pengelolaan secara higienis, termasuk cara pengurusan ijin usaha dan lainnya," kata Amrizal.

Menurut Amrizal, program ini sejalan dengan visi Koto Tangah sebagai "Nagari Kreatif Hub" yang memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Ia berharap, pendampingan dari Unand bisa menjadi katalis bagi UMKM setempat untuk go international.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top