PADANG — Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Sumatera Barat bergerak cepat memasang Jembatan Bailey di titik longsor Jembatan Jeruai. Jembatan darurat itu memastikan konektivitas tidak terputus total, meski dengan konsekuensi penurunan tingkat pelayanan jalan. Waktu tempuh pengguna bertambah, antrean kendaraan mengular, dan biaya operasional kendaraan ikut membengkak.
Jalur Padang–Painan membentang di kawasan perbukitan dengan lereng curam dan curah hujan tinggi. Longsor, ambles, banjir, hingga kerusakan jembatan hampir terjadi setiap tahun. Dr Fidel Miro, dosen Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Bung Hatta, menyebut persoalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan rendahnya ketahanan jaringan transportasi terhadap risiko bencana.
Dalam ilmu transportasi, prinsip network resilience menuntut adanya alternatif jalur dan moda ketika satu koridor terganggu. Sumatera Barat belum memilikinya secara optimal. Jalan nasional ini merupakan satu-satunya urat nadi mobilitas dan distribusi logistik menuju Pesisir Selatan. Ketika terganggu, aktivitas ekonomi dan sosial ribuan warga ikut terhambat.
Jembatan Bailey memang efektif sebagai solusi darurat karena pemasangannya cepat. Namun kapasitasnya terbatas—baik dari sisi beban maupun volume lalu lintas. Pembatasan kendaraan maksimal 25 ton adalah langkah kehati-hatian. Selama masa transisi, terjadi penurunan signifikan pada kelancaran arus barang dan orang.
Fidel Miro mendorong pengembangan kembali jalur kereta api menuju Pesisir Selatan sebagai tulang punggung mobilitas alternatif. Moda rel mampu mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar dengan keselamatan lebih baik dan emisi karbon rendah. Di sisi lain, pemerintah perlu memperkuat mitigasi bencana: pemantauan lereng real time, sistem peringatan dini, dan inspeksi jembatan berkala. Pendekatan reaktif yang hanya memperbaiki setelah rusak harus bergeser ke preventif.
Selama Jembatan Bailey digunakan, kepatuhan terhadap batas tonase kendaraan menjadi krusial. Memaksakan muatan berlebih memperpendek umur jembatan darurat dan memperbesar risiko putusnya akses total. "Kepatuhan terhadap pembatasan tonase kendaraan bukan sekadar memenuhi aturan, melainkan menjaga keselamatan bersama," tulis Fidel Miro dalam analisisnya.
Pembangunan jembatan permanen diharapkan segera rampung agar arus lalu lintas kembali normal. Namun lebih dari itu, setiap bencana harus menjadi momentum memperkuat ketahanan jaringan transportasi Sumatera Barat ke depan.