PAYAKUMBUH — Ketergantungan pelajar terhadap sepeda motor di Kota Payakumbuh dinilai sudah pada level mengkhawatirkan. Selain meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, kepadatan kendaraan roda dua di kawasan sekolah pada jam masuk dan pulang belajar juga memicu kemacetan.
Pemerintah kota pun menggulirkan solusi berupa angkutan umum listrik. Sekretaris Daerah Kota Payakumbuh Rida Ananda mengatakan, sebelum program direalisasikan, kajian mendalam diperlukan agar sistem transportasi yang dibangun benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
“Sebelum angkutan ini beroperasi kita harus melakukan kajian mendalam agar semuanya berjalan optimal dan seluruh masyarakat dapat terlayani,” ujarnya.
Studi kelayakan yang disusun LPPM Universitas Andalas mencakup kebutuhan armada, rute pelayanan, dan pola operasional. Seluruh rekomendasi teknis, termasuk trase yang bakal dilalui, akan diselaraskan dengan dokumen rencana tata ruang Kota Payakumbuh.
“Tujuan kita membangun sistem angkutan umum yang aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan untuk Kota Payakumbuh. Seluruh rekomendasi teknis armada dan trase nantinya diselaraskan dengan tata ruang resmi Kota Payakumbuh,” kata Rida.
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Payakumbuh Amri menyatakan dukungan terhadap rencana tersebut. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh penyediaan armada.
“Kami mendukung program pemerintah menghadirkan transportasi umum listrik. Namun harus ada aturan yang tegas karena anak-anak di bawah umur memang tidak diperbolehkan membawa kendaraan sendiri. Kalau aturannya jelas, Insyaa Allah program ini akan sukses. Harapan kami, benahi dulu aturannya,” kata Amri.
Melalui kajian ini, Pemkot Payakumbuh menargetkan pengembangan angkutan umum listrik yang benar-benar sesuai kebutuhan, terutama pelajar. Sistem transportasi ini diharapkan mampu meningkatkan keselamatan berkendara, mengurangi kemacetan di kawasan pendidikan, memperluas akses masyarakat terhadap layanan angkutan umum, serta menjadi fondasi pembangunan transportasi perkotaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Rida menambahkan, ketergantungan mobilitas pelajar pada kendaraan roda dua menciptakan risiko keselamatan dan inefisiensi sistemik. “Karena itu, kita membutuhkan solusi berupa angkutan massal yang aman dan ramah lingkungan,” pungkasnya.