SUMATERA BARAT — Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh General Manager AP I YIA, Muhammad Thamrin, di Ruang Rapat Menoreh, Kompleks Pemkab Kulonprogo. Thamrin menyebut bahwa inisiatif ini merupakan wujud komitmen manajemen pusat dan regional dalam membangun kesiapsiagaan bencana.
“Kami dari manajemen Angkasa Pura Indonesia mewakili kantor pusat dan regional menyampaikan bantuan satu unit kapal karet dan motor tempel 25 PK. Ke depannya, jika ada hal lain yang berkaitan dengan ekosistem tanggap darurat di bandara, kami pasti akan berkolaborasi,” ujarnya.
Ketua SAR Yayasan Sigap Lintas Batas, Y. Sulistyawan, menyebut tanggal 28 Juli 2026 sebagai hari bersejarah bagi organisasinya yang berdiri sejak 2021. Menurutnya, peralatan ini akan menjadi kepanjangan tangan dalam menyampaikan pesan kemanusiaan dan kebencanaan ke masyarakat.
“Semoga perahu karet dan motor tempel yang kami terima bisa menjadi kepanjangan tangan kepada masyarakat dan penyampai pesan kemanusiaan serta kebencanaan,” ungkap Sulistyawan.
Yayasan berkomitmen merawat dan mengoperasikan armada sesuai pedoman teknis otoritas keselamatan nasional. Seluruh dokumentasi aktivitas dan laporan pemanfaatan aset akan diserahkan ke BNPB serta manajemen Bandara YIA dalam 60 hari ke depan.
Sebagai bentuk akuntabilitas, Basarnas merekomendasikan agar armada segera diuji coba di Waduk Sermo. Karakter motor tempel yang dirancang khusus untuk kedalaman air tertentu dan kondisi sungai menuntut pelatihan intensif bagi personel.
Langkah ini menjadi krusial mengingat ancaman megathrust di selatan Jawa bukan sekadar teori. Wilayah pesisir Kulonprogo masuk dalam zona rawan tsunami yang membutuhkan kesiapan alat evakuasi bergerak cepat. Dengan tambahan perahu karet ini, diharapkan respons terhadap bencana bisa lebih optimal, terutama untuk menjangkau korban di area yang sulit diakses jalur darat.