Festival Telong-telong Warnai Pantai Padang di Hari Jadi ke-357, Kenang Perlawanan Rakyat Pauh dan Kuranji

Penulis: Faisal Hasbi  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 13:37:31 WIB
Ratusan lampion telong-telong diterbangkan warga dalam puncak perayaan Hari Jadi ke-357 Kota Padang di Pantai Padang, Kamis malam.

PADANG — Festival Telong-telong menjadi puncak perayaan Hari Jadi ke-357 Kota Padang yang berlangsung meriah di kawasan Pantai Padang, Kamis (6/8/2026) malam. Ratusan lampion warna-warni diterbangkan warga, menghiasi langit ibu kota Provinsi Sumatera Barat dengan cahaya yang berkelindan lembut.

Peristiwa ini bukan sekadar atraksi wisata tahunan. Di balik keindahan cahaya yang melayang, festival ini adalah napas sejarah yang mengingatkan warga pada perjuangan rakyat Pauh dan Kuranji melawan penjajah VOC pada 7 Agustus 1669, tiga setengah abad silam.

Lebih dari Sekadar Lampion Terbang

Tradisi telong-telong di Padang telah mengakar kuat sebagai simbol gotong royong dan keberanian. Masyarakat berbondong-bondong datang ke pesisir pantai sejak sore hari, membawa lampion buatan sendiri dari kertas minyak dan bambu.

Mereka menyalakan sumbu di bagian bawah lampion, menunggu udara panas mengisi rongga kertas, lalu melepaskannya perlahan. Saat lampion mulai meninggalkan telapak tangan, pekik takjub terdengar dari anak-anak hingga orang tua.

Mengapa Perayaan Ini Selalu Ramai?

Suasana Pantai Padang berubah menjadi lautan manusia. Pedagang kaki lima memanfaatkan momen ini untuk menjajakan aneka kuliner khas, sementara sejumlah komunitas fotografi berburu sudut terbaik untuk mengabadikan cahaya lampion yang bertaburan di angkasa.

Bagi generasi muda, festival ini menjadi jembatan untuk mengenal sejarah lokal dengan cara yang lebih dekat dan meriah. Mereka tidak hanya menyaksikan keindahan visual, tetapi juga mendengar kisah heroisme dari para tetua yang turut hadir di lokasi.

Penguatan Identitas Budaya di Tengah Modernitas

Pemerintah Kota Padang menjadikan festival ini sebagai agenda tahunan unggulan untuk menarik kunjungan wisatawan. Perpaduan antara ritual budaya, nilai sejarah, dan hiburan publik dinilai efektif untuk menggerakkan roda ekonomi warga sekitar pesisir.

Dengan berlangsungnya festival ini, Kota Padang kembali menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Cahaya telong-telong yang melayang tinggi seakan menjadi doa bersama agar kota ini terus berjaya, sembari tak pernah melupakan jejak perlawanan para pendahulunya.

Reporter: Faisal Hasbi
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top