3 Desa Wisata Terbaik di Sumatera Barat yang Memesona

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:43:31 WIB
Desa wisata terbaik di Sumatera Barat. (Foto: NET)

SUMATERA BARAT - Desa wisata terbaik di Sumatera Barat menawarkan perpaduan antara lanskap alam, tradisi Minangkabau, serta kehidupan masyarakat yang masih kuat mempertahankan kearifan lokal.

Desa wisata terbaik di Sumatera Barat juga menunjukkan bahwa daya tarik pariwisata tidak hanya berada di kota besar, tetapi dapat tumbuh dari nagari dengan potensi alam dan budaya yang dikelola secara berkelanjutan.

Sumatera Barat memang identik dengan rumah gadang, rendang, silek, serta panorama pegunungan yang membentang dari dataran tinggi hingga kawasan pesisir.

Di balik kekayaan tersebut, terdapat sejumlah nagari yang berkembang menjadi destinasi wisata dengan karakter khas masing-masing.

Pengembangan desa wisata juga memiliki peran penting dalam mendorong ekonomi masyarakat.

Konsep desa wisata memungkinkan potensi lokal seperti kuliner, kesenian, homestay, kerajinan, hingga aktivitas alam menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), aspek yang dinilai tidak hanya daya tarik wisata, tetapi juga homestay, digital dan kreatif, suvenir, toilet umum, penerapan CHSE, serta kelembagaan desa.

Tiga nagari berikut menjadi contoh menarik karena mempunyai kekuatan alam dan budaya sekaligus telah memperoleh pengakuan dalam ajang ADWI.

Desa Wisata Terbaik di Sumatera Barat dengan Pesona Alam dan Budaya

Tiga nagari atau desa wisata terbaik di Sumatera Barat berikut menjadi contoh menarik karena mempunyai kekuatan alam dan budaya sekaligus telah memperoleh pengakuan dalam ajang ADWI.

1. Nagari Tuo Pariangan, Tanah Datar

Nagari Tuo Pariangan berada di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Kawasan ini terletak di lereng Gunung Marapi dengan ketinggian sekitar 800 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kondisi geografis tersebut membuat Pariangan memiliki udara relatif sejuk, perbukitan hijau, serta hamparan sawah berjenjang yang menjadi salah satu ciri khas lanskapnya.

Pariangan juga mempunyai nilai sejarah dan budaya yang kuat bagi masyarakat Minangkabau.

Dalam tradisi lisan atau tambo, Pariangan dikenal sebagai salah satu nagari yang berkaitan dengan awal perkembangan masyarakat Minangkabau.

Nilai sejarah tersebut membuat perjalanan ke Pariangan tidak sekadar menawarkan pemandangan alam, tetapi juga kesempatan mengenal akar kebudayaan setempat.

Salah satu bangunan yang menarik perhatian adalah Masjid Tuo Pariangan. Bangunan tersebut berada di tengah lingkungan permukiman tradisional dan dikelilingi surau serta rumah masyarakat.

Keberadaan masjid tua tersebut menjadi bagian penting dari identitas budaya Pariangan.

Daya tarik Pariangan semakin lengkap dengan berbagai aktivitas berbasis budaya. Salah satunya adalah silek atau seni bela diri tradisional Minangkabau.

Jadesta mencatat beberapa aliran silek yang berkembang di Nagari Tuo Pariangan, termasuk Macan Tuo Talamau, Silek Padusi, dan Silek Tuo Langkah Ampek.

Wisatawan juga dapat menemukan aktivitas lain seperti menikmati lanskap persawahan, mengenal tradisi masyarakat, mencicipi kuliner lokal, serta menginap di homestay yang dikelola masyarakat.

Dari sisi pencapaian, Pokdarwis Nagari Tuo Pariangan meraih Juara 1 kategori Desa Wisata Berkembang dalam ADWI 2022.

Pada 2026, aktivitas promosi dan kolaborasi Pariangan juga terus berjalan melalui festival, pameran, serta kerja sama dengan berbagai pihak.

Keistimewaan tersebut menjadikan Pariangan sebagai destinasi yang cocok bagi wisatawan yang ingin menggabungkan wisata alam, sejarah, budaya, dan kuliner dalam satu perjalanan.

2. Desa Wisata Silokek, Kabupaten Sijunjung

Jika Pariangan menawarkan perpaduan kuat antara budaya dan lanskap pegunungan, Silokek hadir dengan karakter wisata alam yang lebih menantang.

Desa Wisata Silokek berada di Kabupaten Sijunjung dan dikenal sebagai kawasan dengan bentang alam karst, sungai, hutan, serta formasi batuan kuno.

Jadesta mencatat Silokek sebagai salah satu geosite yang memiliki kekayaan geologi. Tebing tinggi, ngarai, perbukitan karst, dan aliran sungai menjadi bagian dari panorama yang dapat ditemukan sepanjang perjalanan menuju kawasan tersebut.

Desa Wisata Silokek juga tercatat sebagai salah satu dari 50 Besar ADWI 2022.

Salah satu kegiatan yang paling menarik adalah arung jeram di Sungai Batang Kuantan. Aktivitas tersebut menawarkan pengalaman menyusuri sungai sambil menikmati tebing karst dan kawasan hutan.

Berdasarkan informasi Jadesta, kegiatan arung jeram Silokek tersedia dengan instruktur yang telah memiliki sertifikasi BNSP.

Selain arung jeram, tersedia aktivitas panjat tebing, trekking, camping, serta canyoning. Bagi pencinta kegiatan luar ruangan, variasi tersebut membuat Silokek memiliki daya tarik yang berbeda dibanding desa wisata dengan konsep rekreasi biasa.

Jembatan gantung Sangkiamo juga menjadi salah satu titik menarik. Dari atas jembatan, bentang alam berupa bebatuan, perbukitan karst, dan aliran Batang Kuantan dapat terlihat dari ketinggian.

Kawasan ini juga dapat menjadi jalur untuk trekking, pengamatan burung, maupun fotografi alam.

Tidak hanya alam, Silokek juga mempunyai kekayaan budaya. Berbagai aktivitas tradisional seperti silek dan Tari Mandulang Ame menjadi bagian dari atraksi desa.

Keberadaan kuliner lokal, homestay, serta paket wisata membuat perjalanan dapat dikembangkan menjadi pengalaman tinggal bersama masyarakat.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa Silokek tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman.

Wisatawan dapat berinteraksi dengan masyarakat, mengenal tradisi, menikmati kuliner, sekaligus mengikuti aktivitas petualangan.

3. Desa Wisata GTP Ulakan dan Green Talao Park

Pilihan berikutnya berada di Kabupaten Padang Pariaman, tepatnya Nagari Ulakan. Desa wisata ini memiliki karakter yang berbeda karena menggabungkan wisata religi, budaya, pesisir, serta ekowisata.

Salah satu daya tarik utamanya adalah Green Talao Park. Kawasan ini dikembangkan menggunakan konsep community-based ecotourism.

Lahan yang sebelumnya kurang produktif kemudian dikembangkan menjadi kawasan wisata berbasis talao atau ekosistem rawa pesisir dan mangrove.

Menurut data Jadesta, Green Talao Park memiliki jalur trekking talao atau mangrove sepanjang sekitar 1,8 kilometer.

Pengelolaannya melibatkan Badan Usaha Milik Nagari, kelompok sadar wisata, kelompok usaha ekonomi masyarakat, pelaku pariwisata, serta pemerintah daerah.

Konsep tersebut menjadi salah satu keunggulan utama GTP Ulakan. Pengelolaan yang melibatkan masyarakat membuat manfaat ekonomi dari aktivitas wisata memiliki peluang lebih besar untuk kembali kepada warga sekitar.

Pemandangan mangrove dan kawasan perairan dapat dinikmati melalui jalur trekking.

Beberapa aktivitas wisata juga tersedia, seperti permainan bebek dayung, pembuatan kerajinan dari tempurung dan bambu, kerajinan pandan, hingga kegiatan yang berkaitan dengan hasil alam pesisir.

Selain Green Talao Park, Nagari Ulakan mempunyai daya tarik religi berupa makam Syekh Burhanuddin.

Kawasan tersebut memiliki sejarah penting dalam perkembangan Islam di Ranah Minang dan menjadi tujuan ziarah dari berbagai daerah.

Keberadaan wisata religi dan ekowisata dalam satu kawasan membuat Ulakan memiliki karakter yang cukup lengkap.

Perjalanan tidak hanya berfokus pada rekreasi, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk memahami sejarah, tradisi, lingkungan pesisir, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dalam catatan Jadesta, Desa Wisata GTP Ulakan masuk 300 Besar ADWI 2021 dan 50 Besar ADWI 2022. Saat ini kategorinya tercatat sebagai desa wisata maju.

Mengapa Desa Wisata Penting bagi Pariwisata Sumatera Barat?

Perkembangan desa wisata membawa perubahan pada cara menikmati destinasi. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat objek tertentu, tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat lokal.

Model seperti ini dapat membuka peluang bagi berbagai sektor ekonomi.

Homestay membutuhkan tenaga pengelola, paket wisata membutuhkan pemandu, kegiatan budaya melibatkan pelaku seni, sedangkan kuliner dan suvenir dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Selain itu, desa wisata dapat membantu menjaga tradisi agar tetap hidup. Kesenian tradisional, permainan rakyat, kuliner khas, kerajinan, dan upacara adat dapat diperkenalkan kepada pengunjung tanpa harus kehilangan akar budaya.

Namun, pengembangan wisata tetap membutuhkan pengelolaan yang hati-hati. Jumlah wisatawan yang meningkat perlu diimbangi dengan pengelolaan sampah, perlindungan ekosistem, pengaturan kapasitas kunjungan, serta pelestarian bangunan dan tradisi.

Konsep berkelanjutan menjadi semakin penting karena daya tarik utama desa wisata justru terletak pada keaslian lingkungan dan kehidupan masyarakatnya.

Jika alam rusak atau budaya lokal kehilangan karakter, keunggulan destinasi juga dapat berkurang.

ADWI sendiri menempatkan kelembagaan desa sebagai salah satu aspek penilaian. Hal tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan desa wisata bukan hanya ditentukan oleh panorama, melainkan juga kemampuan masyarakat dan pengelola dalam membangun sistem pariwisata yang berkelanjutan.

Pariangan, Silokek, dan GTP Ulakan memperlihatkan tiga wajah berbeda pariwisata Sumatera Barat.

Pariangan menonjolkan sejarah dan budaya Minangkabau dengan lanskap pegunungan. Silokek menawarkan kekayaan geologi dan petualangan alam. Sementara itu, GTP Ulakan menghadirkan perpaduan ekowisata pesisir dan wisata religi.

Ketiganya menunjukkan bahwa kekuatan desa wisata tidak harus seragam. Setiap nagari dapat mengembangkan karakter berdasarkan kondisi alam, budaya, sejarah, dan kemampuan masyarakat setempat.

Pada akhirnya, kekayaan tersebut membuat Sumatera Barat memiliki pilihan destinasi yang jauh lebih beragam daripada sekadar wisata kuliner dan kota.

Perjalanan ke desa wisata juga membuka kesempatan untuk menikmati alam sekaligus mengenal kehidupan masyarakat dari jarak yang lebih dekat.

Desa wisata terbaik di Sumatera Barat bukan hanya indah, tetapi juga hidup bersama budaya dan masyarakatnya.

Reporter: Redaksi
Back to top