SUMATERA BARAT — Laga kontra PSS Sleman bukan sekadar pembuka musim, melainkan momentum bagi Bali United untuk membayar lunas kenangan buruk di kandang sendiri. Pada pembuka musim 2023/2024, tim asuhan Johnny Jansen ini tumbang 0-1 di Gianyar lewat gol Ricky Cawor. Memori itulah yang ingin dihapus dengan tiga poin perdana di hadapan suporter.
Performa di Stadion Kapten I Wayan Dipta musim lalu memang jauh dari kata angkernya kandang. Hanya enam kemenangan dari 17 pertandingan membuat poin yang diraih di rumah tidak maksimal. Akibatnya, Bali United terlempar ke peringkat kedelapan klasemen akhir dengan catatan 14 menang, sembilan imbang, dan 11 kalah.
Johnny Jansen buka suara soal inkonsistensi tersebut. Ia sadar dukungan penuh suporter tidak akan berarti apa-apa jika tim gagal menjaga fokus di depan gawang sendiri.
"Kami ingin meraih kemenangan yang lebih banyak di partai kandang mengingat musim lalu belum terlalu konsisten ketika bermain di rumah," kata Johnny Jansen dikutip dari laman resmi klub.
Setelah menjamu PSS Sleman, perjalanan Bali United langsung diuji dengan dua laga tandang beruntun. Isenmulang Kalteng FC dan Borneo FC Samarinda menanti di pekan-pekan awal, sebelum Serdadu Tridatu kembali ke Gianyar untuk menjamu Persijap Jepara.
Dua laga tandang beruntun ini menjadi ujian konsistensi kedua setelah target kemenangan kandang. Jika gagal memetik poin di kandang sendiri, tekanan justru akan menumpuk saat melakoni perjalanan ke Kalimantan yang melelahkan.
Menghadapi PSS Sleman, kunci utama Bali United adalah menjaga konsentrasi dari menit awal. Gol cepat Ricky Cawor di laga pembuka 2023/2024 menjadi pelajaran bahwa lawan bisa mencuri keunggulan kapan saja. Skuad asuhan Johnny Jansen wajib tampil sabar tanpa kehilangan intensitas serangan.
Dukungan penuh dari tribun Stadion Kapten I Wayan Dipta diyakini menjadi suntikan energi ekstra. Namun, publik Gianyar menuntut lebih dari sekadar permainan menarik—mereka ingin melihat kemenangan perdana yang membangun kepercayaan diri untuk sisa musim.