Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi menerapkan sistem belajar dari rumah bagi pelajar PAUD, TK, serta kelas 1 dan 2 SD sebagai antisipasi dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebijakan ini diambil setelah koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Kesehatan Kota (DKK) setempat.
BUKITTINGGI — Pelajar usia dini dan kelas rendah di Kota Bukittinggi untuk sementara tidak perlu datang ke sekolah. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Albertiusman, Selasa (8/9), menyebut kebijakan ini menyusul memburuknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla.
Kelompok yang terdampak aturan ini adalah peserta didik PAUD, TK, serta siswa kelas 1 dan 2 SD. Mereka dinilai lebih rentan terhadap gangguan kesehatan bila beraktivitas di luar ruangan.
Albertiusman menegaskan meski belajar dari rumah, proses pembelajaran tetap berjalan sesuai kurikulum yang berlaku. Pihak sekolah telah menyiapkan instrumen pembelajaran agar siswa tetap bisa mengikuti materi.
"Ketika kita sudah berada di kondisi udara tidak sehat, maka kita memberikan kesempatan kepada anak-anak yang rentan untuk belajar dari rumah," kata Albertiusman.
Kebijakan berbeda berlaku bagi siswa kelas 3 SD hingga kelas 9. Mereka tetap mengikuti pembelajaran tatap muka, namun dengan langkah perlindungan ekstra.
Siswa yang masuk sekolah diwajibkan memakai masker dan membatasi aktivitas di luar ruangan. "Untuk yang belajar tatap muka, tetap memakai masker, aktivitasnya berada dalam ruangan, kemudian tetap mencuci tangan," ujarnya.
Selain masker dan pembatasan aktivitas, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi juga mendorong siswa menjaga kondisi tubuh. Konsumsi makanan bergizi, buah, sayuran, serta memperbanyak minum air putih dianjurkan selama kualitas udara terdampak kabut asap.
Penerapan belajar dari rumah tidak permanen. Keputusan ini akan dievaluasi mengikuti perkembangan kualitas udara di Kota Bukittinggi.
"Kalau kondisi udara bagus, maka pelajar diminta masuk. Tapi ketika meningkat atau tetap dalam kondisi kurang sehat, anak-anak sudah harus belajar dari rumah," kata Albertiusman.