SUMATERA BARAT — Memasuki masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, kebutuhan protein hewani tidak bisa ditawar. Ikan hadir sebagai salah satu sumber terbaik yang terjangkau dan mudah didapat di pasar lokal.
Kabupaten Asahan punya potensi perikanan yang melimpah. Sayangnya, kebiasaan makan ikan di sebagian keluarga masih rendah. Sosialisasi Gemar Ikan yang digelar di Desa Sipaku Area, Kecamatan Simpang Empat, Kamis (10/9/2026), menyasar langsung kelompok yang paling menentukan masa depan gizi anak.
Periode 1.000 HPK dihitung sejak masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun. Di rentang inilah otak dan tubuh anak berkembang paling pesat. Kekurangan gizi di fase ini sulit dikejar di kemudian hari.
Ikan mengandung omega-3, protein, vitamin, dan mineral yang berperan menjaga kesehatan otak dan jantung. Kandungan ini membantu meningkatkan kecerdasan anak sekaligus menurunkan risiko stunting.
Wakil Bupati Asahan, Rianto, S.H., M.A.P., menekankan potensi daerah ini saat membacakan sambutan Bupati. "Kandungan omega-3, protein, vitamin, dan mineral pada ikan sangat vital untuk meningkatkan kecerdasan anak serta menjaga kesehatan otak dan jantung," ujarnya di hadapan peserta.
Sosialisasi ini menyasar 30 peserta yang terdiri dari calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, kader Posyandu, dan tokoh setempat. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Asahan, Umar, S.P., M.M., menjelaskan bahwa kelompok inilah yang menjadi ujung tombak perubahan pola makan di keluarga.
Calon pengantin perlu memahami gizi sejak sebelum menikah. Ibu hamil dan menyusui butuh asupan protein hewani untuk mendukung pertumbuhan janin dan produksi ASI. Kader Posyandu berperan meneruskan informasi ke warga di lingkungan masing-masing.
Rianto mengajak seluruh masyarakat menjadikan ikan sebagai menu utama harian. Ada beberapa cara praktis yang bisa ibu coba di rumah:
Ikan air tawar maupun laut sama-sama bermanfaat. Yang terpenting adalah memastikan ikan dimasak matang sempurna dan bebas dari bahan pengawet berbahaya.
Acara ini digelar berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Selain sosialisasi gizi, dilakukan peninjauan perekaman KTP-el bagi remaja usia 17 tahun.
Rangkaian kegiatan juga diisi lomba mewarnai yang diikuti 35 anak PAUD. Pendekatan ini mengenalkan ikan kepada anak sejak dini melalui aktivitas yang menyenangkan.
Jika anak menunjukkan tanda berat badan tidak naik sesuai usia, sering lemas, atau sulit makan dalam waktu lama, segera bawa ke Posyandu atau puskesmas terdekat. Kader Posyandu bisa membantu memantau pertumbuhan anak secara rutin.
Ibu hamil yang mengalami mual berlebihan hingga sulit makan juga perlu berkonsultasi dengan bidan atau dokter. Penanganan awal mencegah masalah gizi berkembang lebih jauh.
Membiasakan ikan di meja makan bukan sekadar soal selera. Ini investasi jangka panjang untuk generasi yang lebih sehat, kuat, dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045.