Sebanyak 240 warga di tiga kawasan perumahan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, terdampak banjir bandang dengan tingkat kerusakan berbeda-beda. Bupati Solok Jon Firman Pandu meninjau langsung lokasi dan mengerahkan ASN bersama Forkopimda, TNI, Polri, serta relawan untuk membersihkan material lumpur. Pemerintah daerah juga membuka dapur umum dan menyalurkan bantuan bagi warga yang rumahnya terendam.
AROSUKA — Bupati Solok Jon Firman Pandu menyatakan tiga perumahan di kawasan Arosuka terkena dampak banjir bandang dengan kondisi yang tidak seragam. Sebagian warga mengalami kerusakan langsung, sebagian lain terdampak tidak langsung karena akses dan lingkungan sekitar terputus material lumpur.
Data sementara yang dihimpun pemerintah kabupaten mencatat sekitar 240 jiwa terdampak di ketiga kawasan tersebut. Angka itu masih bisa berubah seiring proses pendataan lanjutan di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Solok mengerahkan aparatur sipil negara bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, TNI, Polri, dan relawan untuk membersihkan jalan serta lingkungan perumahan yang tertutup lumpur. Dapur umum didirikan untuk memenuhi kebutuhan harian warga yang terdampak.
Bantuan logistik disalurkan ke titik-titik pengungsian dan rumah warga yang belum bisa dihuni. Menurut Bupati, dukungan relawan dari sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Barat mempercepat proses pembersihan di lokasi-lokasi terdampak.
"Ada tiga perumahan yang terdampak bencana. Berdasarkan data yang kita dapat, ada sekitar 240 warga kita di sini, ada yang terdampak langsung dan ada yang tidak terdampak langsung," kata Jon Firman Pandu saat meninjau Perumahan Nuansa Griya, Arosuka.
Banjir bandang menjadi bahan evaluasi pemerintah kabupaten terhadap kondisi kawasan, keselamatan masyarakat dan pegawai, serta proses perizinan yang berkaitan dengan area terdampak. Jon Firman Pandu menyebut pihaknya akan mengecek detail proses AMDAL di kawasan tersebut.
"Perizinan AMDAL kita cek detail, mungkin seperti apa prosesnya dan akan kita evaluasi," ujarnya.
Pemkab Solok mulai membahas kemungkinan memindahkan kawasan perkantoran jika hasil evaluasi menunjukkan lokasi tersebut berisiko bagi keselamatan pegawai dan warga. Namun Bupati menegaskan rencana itu masih berupa wacana awal dan belum menjadi keputusan resmi pemerintah daerah.
Kejadian ini menjadi koreksi bagi pemerintah daerah dalam memperbaiki tata kelola penanganan bencana. Kabupaten Solok sebelumnya juga dilanda bencana pada akhir 2025, sehingga pola mitigasi dan kesiapsiagaan dinilai perlu dibenahi.
Penanganan banjir bandang dilakukan secara bersama karena dampaknya membutuhkan keterlibatan banyak pihak, terutama dalam pembersihan lingkungan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Pemerintah kabupaten belum merinci jadwal pasti penyelesaian pembersihan maupun hasil akhir evaluasi kawasan terdampak.