Pemko Pariaman Raih Penghargaan IJTI Sumbar atas Mitigasi Bencana, Wali Kota Yota Balad Beberkan 4 Kunci Kesiapsiagaan

Penulis: Irwansyah Hakim  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:31:02 WIB
Wali Kota Pariaman Yota Balad menerima penghargaan IJTI Sumbar atas penanganan bencana hidrometeorologi dalam Musda V IJTI Sumatera Barat.

PARIAMAN — Penghargaan diterima langsung Wali Kota Pariaman Yota Balad dari Ketua Umum IJTI Pusat Herik Kurniawan. Penyerahan berlangsung di sela rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) V IJTI Sumatera Barat, setelah kegiatan IJTI Talkshow bertema "Peran CSR Instansi/Lembaga/Perusahaan Swasta dalam Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi di Sumbar".

Bagi Pemko Pariaman, penghargaan ini menjadi pengakuan atas kerja penanganan bencana hidrometeorologi sepanjang akhir 2025. IJTI Sumbar membagi penghargaan Musda V ke dalam tiga kategori, yakni Lembaga Inspiratif dalam Penanganan Bencana, Lembaga Inspiratif dalam Dunia Kedokteran, dan Pemerintah Daerah Inspiratif dalam Penanganan Bencana Hidrometeorologi.

Dalam Musda tersebut, Defri Mulyadi yang akrab disapa Imung kembali terpilih sebagai Ketua Pengurus Daerah IJTI Sumatera Barat.

RPB 2026–2030 Jadi Dasar Tata Kelola Kebencanaan Pariaman

Yota Balad memaparkan bahwa Pemko Pariaman telah memiliki cetak biru tata kelola kebencanaan. Dasar itu tertuang dalam Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) 2026–2030 dan Kajian Risiko Bencana (KRB) yang ditetapkan lewat Keputusan Wali Kota Pariaman.

"Alhamdulillah, kami di Pemerintah Kota Pariaman telah mempunyai blueprint tata kelola kebencanaan dengan membuat Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Tahun 2026–2030 dan Kajian Risiko Bencana (KRB) yang ditetapkan melalui Keputusan Wali Kota Pariaman," ujar Yota.

Dokumen tersebut menjadi pijakan penyusunan jalur mitigasi dan evakuasi. Pemko juga memasang rambu-rambu di setiap kecamatan di kawasan pesisir agar warga tahu langkah yang harus diambil saat bencana terjadi.

Gladi Tsunami September 2026 Libatkan ASN hingga Pelajar

Pada September 2026, Pemko Pariaman mengikuti Gladi Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi dan Tsunami Provinsi Sumatera Barat yang difasilitasi pemerintah provinsi. Kegiatan itu melibatkan aparatur sipil negara (ASN), masyarakat, dan pelajar sebagai bagian dari edukasi kesiapsiagaan.

Dari sisi teknologi, Yota menyebut Kota Pariaman sudah memiliki sirene Early Warning System (EWS) tsunami dan EWS pemantau debit air sungai. Pariaman juga menerima bantuan Earthquake Early Warning System (EEWS) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Selain itu, Pemko Pariaman mengoperasikan High-Frequency (HF) Radar Array Tsunami. Alat itu memancarkan gelombang elektromagnetik untuk memantau kondisi laut dan aktivitas gelombang hingga sejauh 150 kilometer di laut.

Mitigasi "Dunia Akhirat" lewat Satu Keluarga Satu Hafiz

Yota juga menyampaikan program unggulan Satu Keluarga Satu Hafiz yang menjadi bagian dari visi pemerintahannya. Program itu dikaitkan dengan penguatan spiritual masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana.

Ketua Umum IJTI Pusat Herik Kurniawan mengapresiasi visi tersebut. Menurutnya, Satu Keluarga Satu Hafiz merupakan gagasan inspiratif yang jarang ditemui pada program kepala daerah lain.

"Yang disiapkan oleh Pemerintah Kota Pariaman bukan hanya mitigasi duniawi saja, tetapi juga mitigasi dunia akhirat, dengan adanya program Satu Keluarga Satu Hafiz ini," kata Herik.

Herik menyebut pendekatan itu sebagai hal baru yang belum pernah ia dengar dalam konteks mitigasi bencana di daerah. Penghargaan IJTI Sumbar diharapkan mendorong daerah lain meniru langkah Pariaman memperkuat kesiapsiagaan warga pesisir.

Reporter: Irwansyah Hakim
Sumber: ranahnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top