SUMATERA BARAT — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyiapkan anggaran Rp 1 triliun untuk penyediaan bibit jagung dan sarana pendukung pakan ternak. Anggaran itu digelontorkan setelah pemerintah memetakan kebutuhan jagung nasional yang mencapai 1,8 juta ton per tahun. Penanaman akan difokuskan pada 300.000 hektare dengan estimasi produksi 2,1 juta ton.
Jakarta, Kementerian Pertanian. Rapat koordinasi kemitraan jagung pakan bersama sekitar 1.000 peternak menjadi dasar penyusunan skema pembiayaan tersebut. Amran menyebut anggaran Rp 1 triliun dipakai membangun ekosistem dari hulu ke hilir, melibatkan peternak dan petani jagung dalam satu kesatuan koperasi.
Menurut Amran, kebutuhan jagung nasional mencapai 1,8 juta ton per tahun. Pemerintah mendorong produksi lewat penanaman seluas 300.000 hektare dengan estimasi hasil 2,1 juta ton. "Jadi, tanam jagung sendiri dibantu oleh pusat," ujar Amran saat konferensi pers di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (27/10/2026).
Jika pasokan di suatu wilayah berlebih, Perum Bulog bertindak sebagai off-taker yang menampung hasil panen. Jagung itu kemudian bisa ditebus dan dibeli kembali oleh peternak memakai subsidi pemerintah melalui Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Amran menggambarkan mekanisme tersebut mirip resi gudang. "Peternak yang menyetor ke Bulog, ini kaya resi gudang, ini nanti yang menebus, membeli kembali dengan subsidi pemerintah, SPHP, kalau dia kurang, tetapi selama September, Oktober, November, Desember," jelasnya.
Bila stok justru berlebih, pemerintah meminta persetujuan peternak untuk menyalurkan kelebihan itu ke peternak lain yang kekurangan. "Jadi ini clear," kata Amran.
Pemerintah juga mematok harga impor soybean meal (SBM) melalui ID Food maksimal Rp 8.630 per kilogram. Patokan itu diambil karena harga SBM di pengusaha bisa menembus Rp 12.000 per kg dan memberatkan peternak.
Untuk mengendalikan harga, impor SBM dialihkan ke BUMN Pangan. Langkah ini melengkapi subsidi yang sudah berjalan hingga Desember. "Kami alihkan anggaran Rp 300 miliar untuk 300.000 hektare. Tahun depan, kami berikan lagi Rp 300 miliar, berarti Rp 600 miliar," ucap Amran.
Selain bibit, pemerintah menyerahkan sarana pendukung berupa 100 traktor, 100 dryer, dan 100 pompa. Amran memperkirakan total anggaran tahun ini dan tahun depan mencapai sekitar Rp 1 triliun.
Skema kemitraan ini menempatkan peternak sebagai pembeli hasil panen sekaligus penerima subsidi, sementara petani jagung mendapat kepastian pasar lewat Bulog. Bagi peternak, kepastian pasokan pakan menjadi kunci menekan biaya produksi yang selama ini tertekan harga SBM impor.
Pemerintah menargetkan ekosistem jagung pakan ini berjalan penuh pada musim tanam berikutnya, dengan Bulog dan ID Food sebagai penyangga pasokan maupun harga di tingkat nasional.