SUMATERA BARAT — Sony Xperia 1 VIII tetap mempertahankan identitasnya sebagai ponsel bagi para profesional dengan mempertahankan lubang jack audio 3,5mm dan slot microSD. Di balik spesifikasi teknis yang impresif, Sony menyematkan teknologi "AI Camera Assistant" yang diklaim mampu memberikan berbagai opsi ekspresif melalui penyesuaian otomatis. Sayangnya, implementasi perdana fitur ini justru mendapatkan respons negatif di media sosial karena dianggap merusak kualitas visual foto demi mengejar kecerahan semata.
Kritik Tajam Terhadap Hasil Pemrosesan AI Camera Assistant
Fitur AI Camera Assistant pada Xperia 1 VIII dirancang untuk membantu pengguna mewujudkan visi kreatif mereka melalui kecerdasan buatan. Sony menjelaskan dalam promosinya:
"AI Camera Assistant terbaru dengan Xperia Intelligence membantu Anda mewujudkan visi Anda. Fitur ini menyarankan berbagai opsi ekspresif dengan penyesuaian berbeda untuk menciptakan foto yang berkesan. Dikombinasikan dengan sensor kamera telefoto baru yang hampir 4 kali lebih besar dari sebelumnya, setiap foto akan menjadi kenangan yang ingin Anda simpan dan bagikan."
Namun, contoh foto yang dibagikan Sony justru menunjukkan hasil yang berlawanan dengan ekspektasi fotografer purist. Gambar terlihat jauh lebih terang secara paksa, yang berdampak pada hilangnya kontras dan saturasi warna yang natural. Detail pada area bayangan (shadow) diangkat secara agresif sehingga foto terlihat datar dan kehilangan kedalaman ruang (depth).
Spesifikasi Utama Sony Xperia 1 VIII
- Layar: Panel OLED khas Sony dengan aspek rasio sinematik.
- Chipset: Flagship Snapdragon terbaru (generasi 8).
- Kamera Utama: Sensor telefoto baru dengan ukuran fisik 4x lebih besar.
- Fitur Unik: Jack audio 3,5mm, slot MicroSD, tombol shutter fisik.
- Harga: Mulai dari €1.500 (Estimasi Rp26,4 Juta).
Tren Fotografi Komputasional yang Semakin "Datar"
Fenomena yang terjadi pada Xperia 1 VIII mencerminkan tren buruk di industri smartphone dalam beberapa tahun terakhir. Banyak produsen terjebak dalam pola pemrosesan gambar yang terlalu tajam (oversharpened) dan mencerahkan seluruh area foto ke tingkat yang sama. Hal ini membuat elemen bayangan yang seharusnya memberikan karakter pada foto menjadi hilang.
Google juga baru-baru ini memperkenalkan alat "Smart Enhance" pada aplikasi Instagram Edits di Android yang menunjukkan gejala serupa. Meskipun Google Pixel masih dianggap sebagai salah satu kamera smartphone paling konsisten, gaya fotografinya kini mulai bergeser menjadi lebih membosankan dibandingkan model-model terdahulu yang memiliki kontras tinggi.
Di saat brand seperti Oppo melalui Find X9 Ultra atau Motorola dengan seri Razr Fold mulai berani memberikan karakter warna yang kuat, langkah Sony dengan AI Camera Assistant ini justru terasa seperti kemunduran. Bagi pengguna yang terbiasa dengan kendali manual khas seri Xperia, pemrosesan AI yang agresif ini bisa menjadi alasan kuat untuk tetap menggunakan mode Pro tanpa campur tangan kecerdasan buatan.
Harga dan Ketersediaan
Sony membanderol Xperia 1 VIII dengan harga mulai dari 1.500 Euro untuk pasar Eropa. Belum ada informasi resmi mengenai ketersediaan ponsel ini di pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Mengingat rekam jejak Sony Mobile di tanah air, kemungkinan besar perangkat ini hanya bisa didapatkan melalui jalur impor dengan konsekuensi pajak IMEI yang cukup tinggi bagi pengguna lokal.
Xperia 1 VIII tetap menjadi pilihan menarik bagi pengguna yang membutuhkan fitur hardware spesifik seperti slot kartu memori dan kualitas layar tanpa notch. Namun, bagi para purist fotografi, fitur AI terbaru ini nampaknya perlu dievaluasi ulang melalui pembaruan perangkat lunak agar tidak menghilangkan ciri khas Sony yang selama ini dikenal natural.