Pencarian

Eks VP Microsoft Sebut Korporasi Gagal Manfaatkan Gelombang AI, Adopsi Copilot Cuma 3,3 Persen

Senin, 18 Mei 2026 • 04:44:01 WIB
Eks VP Microsoft Sebut Korporasi Gagal Manfaatkan Gelombang AI, Adopsi Copilot Cuma 3,3 Persen
Eks VP Microsoft ungkap adopsi Copilot hanya 3,3 persen dari total pengguna Microsoft 365.

SUMATERA BARAT — Microsoft tengah menghadapi tekanan internal yang serius di balik gemerlap kampanye AI-nya. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip Windows Latest, Mat Velloso, mantan Partner Director yang mengelola inovasi AI di Windows, mengungkapkan bahwa produk unggulan AI perusahaan, Copilot, gagal menarik minat pengguna. Data menunjukkan, dari 450 juta pelanggan Microsoft 365, hanya sekitar 15 juta yang bersedia membayar fitur AI tersebut.

Angka Adopsi Copilot Jeblok di Tengah Investasi Raksasa

Velloso mengkritik strategi Microsoft yang memaksakan Copilot ke dalam taskbar Windows 11 dan rangkaian aplikasi Office. "Kurang dari 3 persen pengguna berbayar yang secara aktif menggunakan Copilot," ujarnya. Jika dibandingkan dengan perkiraan belanja kuartalan Microsoft untuk AI yang mencapai 37,5 miliar dolar AS (sekitar Rp 618 triliun), angka adopsi 3,3 persen ini dinilai sebagai kegagalan besar.

Kegagalan ini juga terlihat di sektor perangkat keras. Microsoft mendorong para produsen laptop (OEM) untuk menyematkan Neural Processing Unit (NPU) di perangkat terbaru mereka. Namun, Velloso menyebut dorongan itu sia-sia karena "tidak ada satu pun kasus penggunaan berharga yang dibangun untuk NPU di Windows atau Office." Artinya, konsumen tidak mendapatkan manfaat nyata dari chip AI yang membuat harga laptop melonjak.

Strategi Bing Gagal dan Keandalan GitHub Menurun

Kritik Velloso tidak berhenti pada Copilot. Ia juga menyoroti kegagalan Bing sebagai mesin pencari berbasis AI. Meskipun menjadi taruhan AI terbesar Microsoft, Bing gagal merebut satu persen pun pangsa pasar dari Google. Di sisi lain, GitHub yang seharusnya menjadi andalan revolusi coding AI, justru mengalami penurunan keandalan layanan (SLA) hingga di bawah 90 persen. Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya biaya operasional (COGS) yang mulai menarik perhatian para pemegang saham.

Menurut Velloso, tekanan dari investor inilah yang akhirnya memaksa Microsoft untuk mulai mendengarkan masukan pengguna. "Mereka terpaksa melakukan factory reset internal," sindirnya, merujuk pada perubahan haluan strategi yang mendadak.

Gelombang Eksodus Eksekutif di Tubuh Microsoft

Kritik keras dari internal ini bertepatan dengan gelombang hengkangnya para pemimpin kunci. Baru-baru ini, Julia Liuson, kepala Divisi Developer (DevDiv) yang telah mengabdi selama 34 tahun, mengundurkan diri. Meskipun secara resmi disebut sebagai pensiun, Velloso menilai langkah ini sebagai bagian dari "reset pabrik" yang lebih besar.

Ia mendaftarkan sederet nama eksekutif lain yang telah pergi atau dipindahtugaskan dalam beberapa bulan terakhir. Situasi ini menunjukkan adanya ketidakstabilan di jajaran pimpinan tertinggi Microsoft. Perusahaan yang dulu dikenal dengan kesuksesan Windows dan Office kini harus berjuang keras untuk membuktikan bahwa investasi AI mereka tidak sia-sia.

Dampak bagi Pengguna Windows di Indonesia

Bagi pengguna di Indonesia, situasi ini berarti satu hal: fitur AI di Windows 11 yang diiklankan secara besar-besaran mungkin tidak sepenting yang diklaim Microsoft. Jika produsen laptop terus menaikkan harga perangkat karena adanya NPU tanpa memberikan aplikasi yang benar-benar berguna, konsumen hanya akan membayar lebih untuk fitur yang jarang digunakan. Keputusan pembelian laptop Windows 11 saat ini sebaiknya tetap didasarkan pada spesifikasi inti seperti prosesor, RAM, dan penyimpanan, bukan semata-mata pada keberadaan chip AI.

FAQ: Pertanyaan Seputar Strategi AI Microsoft

Apa yang dimaksud dengan Copilot di Windows 11?
Copilot adalah asisten AI bawaan Microsoft yang terintegrasi di Windows 11, Microsoft 365, dan browser Edge. Fungsinya membantu pengguna merangkum dokumen, menulis email, atau mengubah pengaturan sistem melalui perintah teks.

Mengapa Microsoft gagal dengan strategi AI-nya?
Menurut analisis internal, kegagalan ini disebabkan oleh rendahnya adopsi pengguna karena kurangnya kasus penggunaan yang praktis. Selain itu, investasi besar-besaran di perangkat keras NPU tidak dibarengi dengan pengembangan aplikasi yang membuat fitur AI tersebut terasa esensial bagi konsumen sehari-hari.

Bagikan
Sumber: windowslatest.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks