PULAU PUNJUNG — Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani Kabupaten Dharmasraya anjlok hingga Rp750 per kilogram pada Jumat, 22 Mei 2026. Penurunan dari Rp3.180 menjadi Rp2.430 per kilogram ini langsung memicu kekhawatiran di kalangan pekebun karena selisih harga disebut paling ekstrem dalam beberapa musim terakhir.
Turun Lebih dari 20 Persen dalam Sehari
Syahrial (54), petani asal Nagari Koto Beringin, Kecamatan Tiumang, mengaku kaget saat mendapat informasi dari pengurus KUD Kamis malam. "Turun cukup jauh mencapai 750 rupiah per kilo. Kalau turun biasanya hanya 75 sampai 100 rupiah, tidak pernah segini," ujarnya di Pulau Punjung.
Penurunan ini setara 23,6 persen dari harga sebelumnya. Suherman, pemilik Timbangan Ram Sawit di Kecamatan Tiumang, mengatakan ia membeli TBS petani di harga Rp3.200 per kilogram pada Kamis siang, lalu harga anjlok keesokan harinya. "Ada sekitar 21 ton saya beli dengan harga tinggi. Saat mau dijual ke pabrik sore hari, mereka sudah tidak terima," keluhnya.
Biaya Produksi Membengkak, Petani Terjepit
Asmanto (38), petani dari Nagari Padang Laweh, Kecamatan Padang Laweh, mengkhawatirkan dampak jangka panjang jika harga bertahan rendah. "Kalau lama-lama kayak gini, hancur kami petani. Pupuk mahal sekarang, pestisida mahal, upah panen mahal, belum lagi untuk biaya perawatan lainnya," tuturnya.
Biaya operasional kebun sawit di Dharmasraya memang terus naik dalam setahun terakhir. Harga pupuk NPK dan pestisida disebut petani naik 15-20 persen, sementara upah panen per kilogram juga ikut merangkak. Dengan harga jual di bawah Rp2.500, margin petani kecil nyaris tidak ada.
Apa yang Bisa Dilakukan Petani Saat Ini?
Suherman berharap petani tetap menjaga kualitas TBS agar harga jual ke depannya lebih baik. "Kualitas buah yang bagus bisa sedikit menahan laju penurunan harga di tingkat timbangan," katanya. Ia juga mendorong pemerintah daerah segera mencari solusi agar harga TBS kembali stabil.
Petani berharap Pemkab Dharmasraya turun tangan, baik melalui intervensi pasar maupun bantuan operasional sementara. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perkebunan setempat mengenai langkah antisipasi penurunan harga sawit.
Berapa Kerugian yang Dialami Pemilik Timbangan?
Suherman mengaku merugi hingga belasan juta rupiah akibat selisih harga. "Kami beli 21 ton di harga tinggi, sementara harga hari ini turun. Saat mau jual sore hari pabrik juga sudah tidak menerima," ujarnya.
Kapan Harga Sawit Diprediksi Kembali Naik?
Belum ada kepastian kapan harga TBS akan pulih. Petani hanya bisa berharap fluktuasi ini bersifat sementara dan tidak berlangsung lama seperti yang dikhawatirkan Asmanto. "Kalau lama-lama kayak gini, hancur kami petani," katanya.