BUKITTINGGI — Pemerintah Kota Bukittinggi mencatatkan sejumlah capaian signifikan dari rangkaian acara 100 Tahun Jam Gadang yang berlangsung sepanjang Juni 2026. Perhelatan yang mengusung semangat pelestarian sejarah, penguatan budaya, dan ekonomi kreatif ini melibatkan akademisi, budayawan, komunitas, perantau, serta delegasi asing.
Parade 1.700 Perempuan Minang Lampaui Target
Antusiasme warga melampaui ekspektasi panitia. Parade budaya yang menjadi salah satu puncak acara diikuti oleh 1.700 perempuan yang mengenakan busana adat Minang lengkap. Angka tersebut jauh melebihi target awal yang ditetapkan penyelenggara. Di sektor olahraga, International Jam Gadang Fun Run juga menarik 2.000 peserta dari berbagai daerah.
100 Penyair Dunia dan Festival Film Asia Tenggara
Di bidang literasi dan seni, sebanyak 100 penyair dari berbagai negara membacakan puisi mereka di kawasan Jam Gadang. Bukittinggi East Film Festival turut digelar, menampilkan karya-karya perfilman dari negara-negara Asia Tenggara. Seluruh rangkaian ini merupakan bagian dari International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 yang menjadikan kota tersebut sebagai ruang perjumpaan budaya dunia.
Dukungan Tokoh Nasional untuk Status Kota Perjuangan
Salah satu hasil paling krusial dari perayaan ini adalah menguatnya dukungan terhadap pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan. Dalam seminar nasional, sejarawan senior Prof. Anhar Gonggong menegaskan bahwa Bukittinggi memiliki posisi unik sebagai pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang menjaga keberlangsungan NKRI saat pusat pemerintahan lumpuh akibat Agresi Militer Belanda II.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, melalui pesannya menyebut bahwa ketika Republik hampir padam pada 1948, Bukittinggi menjadi salah satu daerah yang menjaga nyala Republik tetap hidup. Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon juga mendorong agar identitas tersebut terus dikedepankan.
Diplomasi Internasional dan Peluang Kerja Sama Baru
Kehadiran para duta besar, akademisi, dan pegiat literasi dari puluhan negara menjadikan Bukittinggi sebagai pusat diplomasi budaya selama sebulan penuh. Seminar internasional yang membahas hubungan diplomatik Indonesia-Belanda hingga forum literasi dunia membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, kebudayaan, penelitian, ekonomi kreatif, dan pengembangan museum digital.
Wali Kota Ramlan Nurmatias menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar merayakan usia sebuah bangunan bersejarah. "Jam Gadang bukan hanya simbol Kota Bukittinggi, tetapi juga saksi perjalanan sejarah bangsa. Melalui momentum satu abad ini, kami ingin memperkuat kesadaran sejarah, memperkenalkan Bukittinggi ke dunia internasional serta membangun masa depan tanpa melupakan akar budaya dan perjuangan yang menjadi identitas kota ini," ujarnya.