Pencarian

Kartu Kuning Paul Gascoigne di Museum FIFA New York: Memori Piala Dunia 1990 yang Tak Terlupakan

Jumat, 26 Juni 2026 • 01:45:01 WIB
Kartu Kuning Paul Gascoigne di Museum FIFA New York: Memori Piala Dunia 1990 yang Tak Terlupakan
Kartu kuning asli Paul Gascoigne dari Piala Dunia 1990 dipajang di Museum FIFA New York.

SUMATERA BARAT — Di tengah kritik terhadap kebijakan tiket dinamis dan komersialisasi Piala Dunia 2026, FIFA justru mendapat pujian lewat pameran interaktif gratis bertajuk 'Legacies of Champions'. Berlokasi di lantai 9 Rockefeller Center, Manhattan, museum ini buka setiap hari selama turnamen berlangsung hingga 19 Juli 2026. Tiket masuknya gratis—kontras dengan biaya hidup di New York yang selangit.

Kartu Kuning yang Membekukan Waktu

Bagi penggemar yang tumbuh di era 1990-an, sektor khusus Piala Dunia 1998 atau jersey Lionel Messi dari final 2022 mungkin menarik. Namun, satu barang memorabilia di bagian 1990 yang paling membekas: kartu kuning asli yang dikeluarkan wasit Brasil, Jose Ramiz Wright, untuk Paul Gascoigne. Kartu berukuran tak lebih dari 7x10 cm itu bertuliskan '19 Gascoigne' tulisan tangan.

“Gazza menangis, saya menangis, bangsa Inggris menangis,” tulis James Andrew, pengunjung yang melaporkan pengalamannya. Kartu itu mengingatkan pada semifinal Italia 1990 saat Inggris kalah adu penalti dari Jerman Barat. Gascoigne sadar kartu kuning kedua itu membuatnya otomatis absen jika Inggris lolos ke final—sebuah drama yang membekas lintas generasi.

Jejak Trofi hingga Jersey 48 Negara

Pameran ini menyajikan satu sektor untuk masing-masing dari 22 edisi Piala Dunia sebelumnya. Koleksinya meliputi jersey Ivor Allchurch (Wales 1958), jaket pemanasan Pele (1962), akreditasi Zinedine Zidane (1998), hingga rumput asli lapangan final 2018. Di area tengah, replika trofi Jules Rimet dengan dudukan asli dipajang sebelum pengunjung mencapai trofi Piala Dunia saat ini—terbuat dari 18 karat emas seberat 5 kg, diamankan dalam lemari superketat.

Selain memorabilia bersejarah, 48 jersey tim peserta Piala Dunia 2026 juga dipajang berdampingan. Sebuah simbol bahwa meski FIFA kerap dituding serakah, museum ini menjadi ruang netral yang merayakan sepak bola tanpa embel-embel korporasi berlebihan.

Setiap Penggemar Punya Kenangannya Sendiri

“Semua orang akan punya momen berkesan dari turnamen masa lalu. Di museum ini, ada barang yang membangkitkan memori itu untuk penggemar tua dan muda,” tulis Andrew. Pameran gratis ini menjadi oase di tengah mahalnya harga tiket pertandingan dan akomodasi selama Piala Dunia 2026. Bagi yang kebetulan di New York, museum ini layak disambangi—bukan hanya untuk foto bersama trofi, tapi untuk merasakan kembali tangis dan tawa yang membentuk sejarah sepak bola dunia.

Bagikan
Sumber: fourfourtwo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks