PADANG — Kesejahteraan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Sumatera Barat kembali menjadi perhatian. Seorang asesor Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (BAN-PDM) mengungkapkan bahwa penghasilan sebagian guru PAUD masih jauh di bawah upah minimum di daerahnya, meski beban kerja mereka mencakup pengajaran, pengasuhan, dan pendampingan anak.
Pengalaman itu diperoleh saat menjalankan tugas visitasi ke berbagai lembaga pendidikan anak usia dini. Di balik suasana belajar yang sederhana, ia menemukan semangat pengabdian yang kuat dari para guru dan kepala sekolah.
Guru PAUD tidak hanya mengajar. Mereka mendampingi dan mengasuh anak, memahami karakter serta kebutuhan masing-masing, membangun komunikasi dengan orang tua, menyiapkan pembelajaran, dan mengelola berbagai kebutuhan lembaga.
Dalam keseharian, guru juga menjadi sosok yang membantu anak merasa aman, nyaman, didengar, dan diterima ketika berada jauh dari keluarganya.
Pendidikan anak usia dini merupakan bagian penting dari ekosistem pendidikan dan keluarga. Di fase inilah anak mulai membangun kemampuan berkomunikasi, mengenali emosi, belajar berinteraksi dengan orang lain, mengembangkan kemandirian, dan memperoleh pengalaman pendidikan di luar lingkungan keluarga.
Melalui interaksi sehari-hari, guru membantu anak mengenal dirinya, memahami lingkungan, belajar menyampaikan kebutuhan, mengelola emosi, dan membangun hubungan dengan orang lain. Guru juga menjadi jembatan komunikasi antara satuan pendidikan dan keluarga.
Ada kontradiksi yang mencuat. Guru diminta menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak, sementara sebagian dari mereka belum memperoleh rasa aman dalam kehidupan ekonominya.
Mereka juga dituntut terus meningkatkan kompetensi, kreatif dalam pembelajaran, mampu mengasuh anak dengan baik, dan membangun komunikasi yang positif dengan orang tua. Namun kesejahteraan yang diterima belum selalu memberikan ruang yang cukup untuk tumbuh sebagai seorang profesional.
Banyak guru tetap bertahan karena mencintai pekerjaannya. Mereka mengajar karena merasa memiliki tanggung jawab terhadap anak-anak dan lingkungan sekitarnya. Ada pula kepala sekolah yang mempertahankan lembaganya dengan segala keterbatasan karena meyakini anak-anak di wilayah tersebut tetap membutuhkan tempat belajar dan pengasuhan yang baik.
Semangat seperti ini patut dihargai. Dalam banyak situasi, pendidikan anak usia dini dapat terus berjalan karena ada orang-orang yang bersedia memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan ilmunya dengan penuh keikhlasan.
Namun, keikhlasan tidak semestinya menjadi pengganti kesejahteraan. Guru juga memiliki keluarga dan kebutuhan hidup, mulai dari biaya transportasi, makanan, kesehatan, pendidikan anak, hingga tempat tinggal.
Persoalannya bukan apakah guru PAUD ikhlas atau tidak. Persoalannya adalah apakah sistem pendidikan sudah memberikan penghargaan yang layak terhadap pengabdian mereka.
Dari perspektif komunikasi keluarga, pendidikan anak usia dini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan keluarga. Anak belajar melalui interaksi yang berlangsung terus-menerus, baik di rumah maupun di sekolah.
Hubungan antara guru dan orang tua menjadi bagian penting dalam memahami perkembangan anak dan memberikan pendampingan yang konsisten. Orang tua berharap guru memahami anak mereka dengan baik, dan sebaliknya guru membutuhkan dukungan orang tua agar proses pendidikan dan pengasuhan berlangsung optimal.
Komunikasi antara keduanya bukan sekadar penyampaian informasi tentang kegiatan sekolah, melainkan proses membangun kesepahaman mengenai kebutuhan, perkembangan, dan pengalaman anak.