Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat menyiapkan tiga inovasi layanan untuk mendekatkan pelajar pada kebiasaan membaca, mulai dari pojok literasi, penambahan koleksi buku, hingga perpustakaan keliling. Langkah itu diambil setelah kunjungan pelajar ke perpustakaan daerah tercatat 23.084 orang sepanjang 2025, dengan rata-rata 30 pelajar datang setiap hari.
PADANG — Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumatera Barat Jumaidi mengatakan peningkatan minat baca tidak cukup hanya dengan menambah buku di rak. Layanan, kata dia, harus dibuat agar pelajar merasa nyaman berlama-lama di perpustakaan.
"Kami melihat upaya meningkatkan minat baca perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat, khususnya pelajar saat ini. Bukan hanya menyediakan buku, tetapi juga menciptakan layanan yang mampu membuat pelajar merasa nyaman dan tertarik untuk memanfaatkan perpustakaan," ujar Jumaidi di Padang, Senin.
Pojok literasi menjadi salah satu fasilitas yang disiapkan. Ruang ini bisa dipakai pelajar untuk membaca dan mencari informasi tanpa harus terikat jam kunjungan resmi perpustakaan.
Penambahan koleksi buku di perpustakaan daerah juga dilakukan agar pilihan bacaan lebih beragam. Tujuannya, pengunjung bisa menemukan buku yang sesuai dengan minat masing-masing, bukan sekadar meminjam buku pelajaran.
Layanan ketiga adalah perpustakaan keliling. Armada ini membawa koleksi buku ke lokasi-lokasi yang jauh dari gedung perpustakaan, terutama untuk pelajar di daerah terpencil.
Ketua Tim Layanan Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbar Rozi menyebut pelajar termasuk kelompok paling aktif memanfaatkan layanan perpustakaan. Sepanjang 2025, kunjungan pelajar tercatat 23.084 orang.
"Rata-rata dalam sehari ada sekitar 30 pelajar yang datang untuk membaca maupun memanfaatkan fasilitas yang tersedia. Sedangkan dalam sebulan ada sekitar 780 pelajar yang datang," kata Rozi.
Di Kota Padang, pengunjung perpustakaan didominasi pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sementara pelajar dari luar Kota Padang lebih banyak berasal dari SMA, SMK, dan SLB.
Jumaidi menyebut inovasi layanan itu diarahkan agar membaca menjadi kegiatan sehari-hari pelajar. Bukan hanya aktif ketika ada tugas atau PR yang menuntut referensi.
"Kami berharap membaca tidak lagi hanya dilakukan saat pelajar membutuhkan referensi untuk menyelesaikan tugas. Kebiasaan itu perlu tumbuh dari kesadaran dan ketertarikan mereka sendiri, sehingga perpustakaan bisa dimanfaatkan sebagai bagian dari proses belajar sehari-hari," ujarnya.
Data kunjungan yang tercatat menunjukkan perpustakaan masih menjadi salah satu tempat yang dicari pelajar untuk mendapatkan bahan bacaan di luar materi pembelajaran sekolah.