PADANG PARIAMAN — Bupati John Kenedy Azis menegaskan pemulihan ekonomi tidak bisa dipisahkan dari pemulihan pascabencana. Menurutnya, bencana menekan keberlangsungan usaha warga melalui produksi yang terganggu, modal yang terbatas, pemasaran yang tersendat, hingga kebutuhan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Karena itu, program Ekraf Peduli tidak berhenti pada penyampaian materi bisnis. Pelaku ekonomi kreatif didorong bergerak menuju pendampingan, penguatan usaha, sampai akses pembiayaan.
John Kenedy Azis melihat budaya, tradisi, kuliner, kerajinan, seni, pariwisata, dan kreativitas generasi muda sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi daerah itu. Ia meminta pelaku UMKM meninggalkan pola usaha yang stagnan.
"Jangan melihat bencana hanya sebagai musibah, tetapi mari kita jadikan momentum untuk melakukan pembenahan, menciptakan peluang baru, dan membangun ekonomi masyarakat yang lebih kuat," tegasnya.
Menurut Bupati, pemulihan yang sesungguhnya adalah kemampuan mengembalikan semangat masyarakat, memulihkan aktivitas ekonomi, membuka kembali peluang usaha, sekaligus membangun ketahanan warga agar lebih kuat dari sebelumnya.
Direktur Pengembangan Akses Pendanaan, Pembiayaan, dan Investasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Dr. Anggara Hayun Anujuprana menjelaskan, Ekraf Peduli dirancang berkelanjutan. Setelah literasi bisnis, peserta memasuki tahapan mentoring dan pendampingan oleh Bank Mandiri.
Peserta kemudian mengikuti pitching untuk mempresentasikan sekaligus mengembangkan potensi usahanya. Tahapan ini mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan akses pembiayaan sesuai kebutuhan dan kapasitas usaha, termasuk peluang memperoleh KUR untuk modal maupun pengembangan UMKM.
Tantangan berikutnya adalah memastikan program ini menghasilkan perubahan nyata. Pemerintah daerah berharap pelaku UMKM semakin mandiri, inovatif, dan berdaya saing.
Bukan sekadar pulang membawa materi pelatihan tanpa perubahan pada bisnis yang dijalankan. Kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif, Pemkab Padang Pariaman, Bank Mandiri, dan OJK menempatkan pemulihan ekonomi sebagai pertarungan setelah bencana.
Ketika produksi kembali bergerak, pasar terbuka, pembiayaan tersedia, dan pelaku usaha semakin tangguh, pemulihan daerah ikut menemukan jalannya. Bagi Padang Pariaman, pulih bukan berarti sekadar kembali seperti semula.