SOLOK — Warga Kayu Aro terbangun oleh suara gemuruh dari perbukitan hulu sekitar pukul 21.30 WIB. Lumpur bercampur batu dan kayu raksasa meluncur deras ke permukiman, memaksa penghuni berhamburan keluar rumah.
"Air datang tiba-tiba sangat besar dan bercampur lumpur dan kayu. Kami menyadari kejadiannya sekitar jam setengah sepuluh malam, warga langsung mengungsi," ujar seorang warga.
Hingga kini belum ada laporan resmi korban jiwa. Namun akses jalan utama di kawasan tersebut dilaporkan lumpuh total tertutup material galodo.
Tokoh masyarakat Sumatera Barat, Yaparudin, menilai bencana galodo bukan murni akibat cuaca ekstrem. Ia menyebut aktivitas PETI sebagai akar persoalan.
"Buah dari aktivitas PETI, Pertambangan Emas Ilegal," tegas Yaparudin.
Menurutnya, hutan di kawasan hulu telah dikuliti dan bukit dilubangi untuk mengeruk emas. Ketika alam tak lagi mampu menahan air, warga kecil di hilir yang menjadi tumbal.
Yaparudin mengungkap bahwa pelaku PETI di Sumbar tidak hanya berasal dari provinsi tersebut. Ia menyebut ada sindikat yang melibatkan penambang dari Riau dan Jambi.
"Benar. Di Tapan, Pessel, orang dari Jambi dan Solok Selatan Sangir sudah menjadi Tim Ahli Gali Lubang Jarum di Tapan. Hingga saat ini masih berlangsung," ungkapnya.
Pernyataan itu menyiratkan bahwa emas Sumbar dikeruk pihak luar, sementara kerusakan lingkungan dan banjir lumpur ditanggung warga setempat.
Kritik Yaparudin juga diarahkan ke Pemerintah Daerah Sumatera Barat. Ia menilai penanganan persoalan lingkungan di ranah minang belum serius.
"Karena Pemerintah Daerah Sumatera Barat Melakukan Pekerjaannya setengah HATI, Ilmu Lingkungan tidak mumpuni alias Dangkal," pungkasnya.
Tim BPBD Kabupaten Solok, TNI-Polri, dan relawan dikabarkan telah masuk ke lokasi untuk evakuasi dan pendataan cepat. Warga diimbau siaga satu karena cuaca ekstrem di wilayah hulu masih mengintai.
Pemerintah daerah belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan PETI maupun jumlah warga yang terdampak. Pendataan masih berlangsung di lokasi kejadian.