Petani Cirebon Pangkas Jadwal Tanam, Ancaman Gagal Panen Akibat El Nino Mulai Terasa

Penulis: Hafizh Ramadhan  •  Rabu, 10 Juni 2026 | 19:15:01 WIB
Petani di Cirebon menunda jadwal tanam akibat kekeringan yang dipicu fenomena El Nino.

SUMATERA BARAT — Musim kemarau tahun ini bukan kemarau biasa. Di Cirebon, yang biasanya menjadi salah satu sentra produksi beras Jawa Barat, para petani terpaksa mengubah kebiasaan turun-temurun mereka. Alih-alih menanam pada Oktober, banyak yang baru berani menyemai benih pada November atau bahkan awal Desember.

Strategi Petani Menghadapi Ketidakpastian Air

Perubahan pola tanam ini adalah respons langsung terhadap kondisi cuaca yang tak menentu. Para petani di sejumlah desa, seperti di Kecamatan Mundu dan Beber, melaporkan bahwa saluran irigasi mulai mengering lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, mereka harus mengandalkan pompa air dari sumur dangkal yang biaya operasionalnya jauh lebih mahal.

"Biasanya kami sudah mulai olah tanah sejak September. Sekarang, kami menunggu hujan benar-benar turun dulu. Kalau nekat tanam, bibit bisa mati," ujar seorang petani setempat, menggambarkan dilema yang dihadapi. Keputusan menunda tanam ini memang mengurangi risiko gagal total, tapi di sisi lain mempersingkat masa tanam dan berpotensi menurunkan hasil panen per hektare.

Dampak El Nino ke Produksi Pangan Lokal

Fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga awal tahun depan membuat petani tak punya banyak pilihan. Mereka harus memilih antara menanam dengan risiko tinggi atau kehilangan satu musim tanam sama sekali. Dari pengamatan di lapangan, area persawahan di Cirebon yang biasanya hijau di bulan-bulan ini kini mulai terlihat kering dan retak-retak.

Kondisi ini bukan hanya soal petani. Jika produksi beras di Cirebon turun drastis, pasokan beras ke sejumlah pasar di Jakarta dan Jawa Barat bagian timur ikut terganggu. Harga gabah di tingkat petani pun mulai merangkak naik, meski belum signifikan, sebagai sinyal awal dari tekanan pasokan yang lebih besar.

Skema Pompa dan Irigasi Alternatif Jadi Andalan

Untuk menyelamatkan sisa musim tanam, beberapa kelompok tani mulai mengaktifkan kembali pompa air yang sebelumnya jarang dipakai. Biaya sewa dan bahan bakar mesin pompa ini menjadi beban tambahan yang harus ditanggung petani. Di beberapa desa, mereka bergotong royong membeli solar secara kolektif agar biaya operasional lebih murah.

Pemerintah daerah setempat, menurut informasi dari dinas pertanian, tengah menyiapkan bantuan pompa air tambahan dan normalisasi saluran irigasi tersier. Namun, bantuan ini baru akan tiba dalam beberapa pekan ke depan, sementara petani di lapangan sudah harus mengambil keputusan sekarang.

Kesimpulannya, petani Cirebon kini berada di antara dua pilihan sulit: maju melawan risiko kekeringan atau mundur kehilangan musim tanam. Adaptasi seperti memundurkan jadwal tanam dan mengandalkan pompa air menjadi bukti nyata bagaimana perubahan iklim mulai mengubah peta pertanian tradisional di Indonesia.

Reporter: Hafizh Ramadhan
Back to top