SUMATERA BARAT — Perusahaan riset CCS Insight memproyeksikan pengiriman smartphone global pada 2026 akan turun drastis hingga 15 persen. Proyeksi suram ini muncul setelah data kuartal I-2026 mencatat penurunan pengiriman sebesar 4,4 persen, meskipun distributor dan peritel sudah menimbun stok lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga.
Penyebab utamanya bukan karena lesunya permintaan, melainkan lonjakan biaya produksi yang signifikan. Tren kecerdasan buatan (AI) yang tengah meledak disebut sebagai pemicu utamanya.
CCS Insight menjelaskan, "ledakan" AI telah mendorong permintaan besar-besaran terhadap server berkinerja tinggi. Akibatnya, produsen chip memori seperti DRAM dan NAND lebih memprioritaskan produksi untuk server yang margin keuntungannya lebih besar, ketimbang untuk PC dan smartphone. Pasokan memori untuk ponsel pun menjadi terbatas, dan harganya otomatis meroket.
Fenomena ini diperkirakan akan memicu "supercycle" pasar memori yang bisa berlangsung hingga 2028. Artinya, harga komponen ini belum akan mereda dalam waktu dekat.
Kenaikan harga memori memberikan pukulan paling keras bagi ponsel murah. Analis riset CCS Insight, Ben Hatton, mengungkapkan bahwa komponen memori kini menyumbang lebih dari 30 persen dari total biaya produksi sebuah smartphone, terutama untuk model kelas bawah.
"Krisis memori belum menunjukkan tanda-tanda mereda dalam waktu dekat, sehingga meningkatkan tekanan pada produsen dan konsumen," ujar Hatton dalam laporannya. Ia menambahkan bahwa dampak penuh dari kenaikan biaya ini belum sepenuhnya terasa di semua wilayah, namun harga perangkat diproyeksikan akan terus naik sepanjang tahun.
Data CCS Insight menunjukkan, pada Januari 2026 pasar global turun setidaknya 5,2 persen dengan kenaikan harga ponsel 6-8 persen. Memasuki Februari 2026, penurunan pengapalan mencapai 8 persen dengan kenaikan harga sekitar 14 persen.
Bagi konsumen di Indonesia, kondisi ini berarti pilihan ponsel murah yang terjangkau akan semakin terbatas. Produsen ponsel kemungkinan besar akan menaikkan harga jual produk entry-level mereka secara bertahap. Jika kamu berencana membeli HP baru di segmen Rp 1-3 jutaan, waktu terbaik mungkin adalah sekarang, sebelum dampak kenaikan biaya memori merambah penuh ke pasar ritel.
Sebaliknya, segmen premium diperkirakan tidak terlalu terpengaruh secara proporsional karena biaya memori menyumbang porsi yang lebih kecil terhadap total harga jual perangkat yang sudah mahal. Produsen papan atas juga memiliki fleksibilitas lebih besar untuk menyerap kenaikan biaya komponen atau mengalihkannya ke fitur lain.