SAWAHLUNTO — Sebuah ekskavator terlihat sibuk mengeruk dasar Sungai Batang Lunto, Kamis pekan lalu. Dua pekerja mengamati proses pengerukan dari atas jembatan rangka baja di kawasan pusat kota tua yang menjadi situs warisan dunia UNESCO itu.
Wali Kota Sawahlunto, Riyanda Putra, memberikan instruksi tegas kepada Bidang Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk membersihkan sedimentasi di sepanjang aliran sungai. Material lumpur dan pasir yang menumpuk dinilai sudah mengganggu estetika dan fungsi ekologis sungai.
Pembersihan sedimen ini bukan agenda seremonial belaka. Akumulasi material di dasar sungai memicu pendangkalan yang berpotensi merusak pemandangan kawasan cagar budaya dan mengancam kelancaran aliran air.
"Kebersihan Batang Lunto menjadi bagian penting dalam menjaga wajah Kota Sawahlunto. Dengan sungai yang bersih dan terawat, masyarakat maupun wisatawan dapat menikmati lingkungan yang nyaman serta mendukung citra Sawahlunto sebagai kota wisata heritage yang berkelanjutan," ujar Riyanda Putra saat dikonfirmasi.
Selain mempercantik kawasan Kota Tua, normalisasi Batang Lunto juga berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap banjir. Pembersihan sedimen secara berkala mengembalikan kapasitas tampung sungai sehingga risiko luapan air saat curah hujan tinggi bisa diminimalkan.
Langkah ini melindungi kawasan cagar budaya dan permukiman warga dari genangan. Pemerintah Kota Sawahlunto menyebut program ini merupakan kelanjutan dari pemeliharaan rutin yang sudah terstruktur sebelumnya.
Meski alat berat dan personel terus dikerahkan, keberhasilan program ini pada akhirnya bergantung pada partisipasi masyarakat. Pemerintah kota berharap warga menghentikan kebiasaan membuang sampah ke aliran sungai.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan warga, visi pelestarian lingkungan kota tua yang berkelanjutan diharapkan dapat terwujud. Sungai yang bersih menjadi urat nadi yang menghidupkan kembali pesona Sawahlunto sebagai destinasi heritage kelas dunia.