JAKARTA — Empat pementasan Randai digelar secara bertahap oleh anak-anak muda Minang yang tergabung dalam Sumbar Talenta Indonesia dan Gemumi. Mereka mengangkat cerita Syekh Burhanuddin, Malin Kundang, Siti Manggopoh, dan Bujang Sambilan.
Dari Surau ke Panggung Nasional
Randai bukan sekadar pertunjukan. Di dalamnya terkandung silat, tari, dendang, dan drama yang menyatu. Para pemain muda, yang sehari-hari berjuang di rantau, menyisihkan waktu untuk berlatih hingga kaki kapalan.
Mereka digarap oleh sutradara senior Jose Rizal Manua dan Jo Harsen Ssn. Keduanya memastikan setiap gerak silat dan dendang tetap berpijak pada tradisi Minang, bukan sekadar tarian modern tanpa akar.
Modal Awal: Jual Undangan Rp 5 Juta
Perjalanan pementasan ini tidak mulus. Pada mahakarya pertama, tak ada sponsor. Para pegiat menjual undangan dengan harga Rp 5 juta, Rp 2,5 juta, dan Rp 1 juta, plus tiket Rp 100 ribu untuk umum.
"Banyak yang mencemeeh. Pertunjukan seni tradisi itu dikasih tiket pun belum tentu mau nonton, apalagi beli dengan harga mahal," kata Sastri Bakry, Founder Sumbar Talenta Indonesia, dalam tulisannya yang diterima redaksi.
Namun, gedung tetap penuh. Keempat pementasan sukses besar, bahkan Malin Kundang sempat dibawa ke TongTong Fair di Belanda atas dukungan Arnaud Kokosky Deforchaux.
Bukan Barang Antik, Tapi Napas Hidup
Kesuksesan ini membuktikan bahwa tradisi tidak harus dikurung di museum. Di tangan anak muda, Randai menjadi identitas yang gagah. "Selama masih ada anak muda Minang yang mau berbaju kurung, basuntiang, badendang, dan bersilat, maka Minangkabau tidak akan pernah mati," ujar Sastri.
Kini, pementasan keempat berjudul Bujang Sambilan digelar tanpa kesulitan mencari sponsor. Kolaborasi antara Sumbar Talenta, Gemumi, dan Sofyani disebut sebagai contoh nyata bagaimana kebudayaan bisa dirawat dengan keringat, bukan sekadar nostalgia.
Pesan untuk Generasi Muda Perantau
Sastri menitipkan pesan kepada para pemain: teruslah berjuang di jalan kebudayaan. "Tepiskan hinaan dan remehan. Percayalah, orang tak akan besar dengan mengecilkan orang lain," katanya.
Pementasan Randai ini menjadi bukti bahwa anak muda Minang di rantau bukan hanya pewaris tradisi, melainkan penjaga api yang terus menyala. Mereka membuktikan bahwa modern tidak berarti melupakan, dan tradisi bisa menjadi jawaban ketika dunia bertanya: "Siapa kamu?"