SUMATERA BARAT — PT Pertamina (Persero) akhirnya buka suara soal kemungkinan penurunan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Cs. Langkah ini didorong langsung oleh Komisaris Utama Mochamad Iriawan yang meminta manajemen segera melakukan penyesuaian harga seiring turunnya harga minyak mentah global.
“Yang pasti kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi manajemen untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak yang di dunia sudah mulai turun,” ujar Iriawan di Jakarta, Jumat (26/6).
Harga Minyak Mentah Turun ke 71 Dolar AS per Barel
Menurut Iriawan, harga BBM nonsubsidi yang berlaku saat ini masih mengacu pada harga minyak mentah yang melonjak akibat konflik di Kawasan Teluk. Saat itu, harga minyak mentah sempat berada di rata-rata 80 dolar AS per barel.
Sementara itu, data dari The Economics mencatat harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) saat ini sudah turun ke level 71 dolar AS per barel. Penurunan ini terjadi setelah adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang meredakan ketegangan geopolitik.
Mengapa Penurunan Tak Bisa Instan?
Meski harga minyak mentah sudah turun signifikan, Iriawan menegaskan Pertamina tidak bisa langsung menurunkan harga BBM nonsubsidi dalam waktu bersamaan. Hal ini terkait mekanisme harga yang berlaku di perusahaan.
“Kami sedang memformulasikan, mendiskusikan. Yang jelas harga minyak hari ini kan diprosesnya bulan kemarin,” jelasnya. Artinya, stok BBM yang saat ini beredar di pasaran masih menggunakan bahan baku yang dibeli saat harga minyak mentah masih tinggi.
Pertamina juga memiliki prosedur atau mekanisme internal yang harus dilalui sebelum memutuskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Proses ini melibatkan perhitungan biaya produksi, distribusi, hingga margin yang wajar.
Rencana penurunan harga Pertamax Cs ini tentu menjadi kabar baik bagi konsumen yang selama ini mengeluhkan harga BBM nonsubsidi yang relatif tinggi. Namun, publik masih harus menunggu hasil final dari pembahasan antara dewan komisaris dan jajaran direksi Pertamina.