PADANG PANJANG — Momentum satu abad gempa besar yang mengguncang Dataran Tinggi Padang pada 28 Juni 1926 dijadikan panggung peluncuran buku sejarah kebencanaan. Yose Hendra, jurnalis dan alumnus Ilmu Sejarah Universitas Andalas, merilis buku "Gempa Tujuh Hari" di kompleks Pusat Dokumentasi Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Kota Padang Panjang, Sabtu (28/6/2026).
"Minggu, 28 Juni 2026 merupakan hari bersejarah, bertepatan dengan seabad peristiwa gempa 1926, salah satu bencana paling besar di Sumatera Barat di masa kolonial Belanda," kata Yose dalam siaran pers yang diterima Antara di Padang, Ahad.
Gempa Kembar yang Mengubah Bentang Alam
Buku ini mendokumentasikan secara detail fenomena gempa kembar yang jarang terjadi. Gempa pertama terjadi pukul 10.04 WIB dengan magnitudo di atas 6,6 yang hiposentrumnya berada di Segmen Sumani. Kurang dari tiga jam kemudian, pukul 12.56 WIB, gempa kedua dengan kekuatan lebih besar mengguncang dari Segmen Sianok.
"Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana Yose Hendra menunjukkan bahwa gempa 1926 memiliki karakteristik gempa kembar. Pola ini kembali terlihat pada gempa 1943 dan 2007," ujar Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang Suaidi Ahadi.
Dahsyatnya gempa tidak hanya merenggut korban jiwa dan merobohkan ribuan bangunan, tetapi juga mengubah bentang alam Sumatera Barat dalam hitungan detik. Longsor raksasa di Lembah Anai menimbun Jalan Raya Pos dan memutus jalur kereta api penghubung Padang dengan Padang Panjang. Rel-rel baja terpelintir dan terangkat dari bantalannya akibat deformasi tanah.
Riset 14 Tahun dan Respons Kolonial Belanda
Yose Hendra menghabiskan 14 tahun melakukan riset independen untuk buku ini. Ia menelusuri arsip kolonial dan berbagai pemberitaan surat kabar masa Hindia Belanda yang menyebut peristiwa ini sebagai "Gampo Toedjoeh Hari" — gempa yang mengguncang selama tujuh hari tujuh malam.
Pemerintah Kolonial Belanda merespons bencana ini dengan pendekatan ilmiah yang maju pada zamannya. Mereka menerjunkan para geolog dan vulkanolog untuk memastikan hiposenter dan episenter gempa. Bahkan para ahli geologi berpengaruh di era itu ikut memberikan opini mengenai gempa 1926.
Refleksi dan Budaya Sadar Bencana
Peluncuran buku ini menjadi bagian dari pagelaran Refleksi Satu Abad Gempa 1926 yang digelar Pemerintah Kota Padang Panjang bersama berbagai pemangku kepentingan. Rangkaian acara juga diisi dengan peletakan batu pertama pembangunan penanda sejarah Gempa 1926 sebagai simbol pengingat bagi generasi mendatang.
"Buku ini tidak hanya mengingatkan publik pada tragedi Gempa Padang Panjang 1926, tetapi juga membuka pemahaman mengenai karakteristik gempa besar yang bersumber dari Sesar Sumatra," tambah Suaidi Ahadi.
Pakar geologi dan geotektonik Danny Hilman Natawidjaja menilai buku ini menghadirkan upaya penting untuk membaca kembali salah satu peristiwa gempa paling bersejarah di Sumatera Barat. Melalui peringatan seabad ini, masyarakat diajak menjadikan catatan sejarah sebagai fondasi memperkuat kesiapsiagaan dan keselamatan generasi mendatang.