Sebanyak 10 perempuan di RW 5 dan RW 6 Koto Baru, Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang, kini mengolah Kopi Bantjah menjadi beragam produk turunan, mulai dari cookies, minuman kopi, lilin aromaterapi, cascara, selai kopi, hingga aneka kue. Pengembangan produk bernilai tambah itu berjalan dengan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Semen Padang. Diversifikasi ini membuka peluang usaha baru bagi warga setempat, terutama perempuan dan generasi muda, di luar aktivitas budidaya dan penjualan hasil panen.
PADANG — Sebelumnya, aktivitas ekonomi Kopi Bantjah lebih banyak bertumpu pada petani sebagai penghasil bahan baku. Kini sebagian warga Koto Baru mulai menggarap sisi hilirisasi, mengubah biji kopi dan bagian buah yang biasanya terbuang menjadi produk siap jual.
Milawati, salah seorang penggerak pengembangan produk turunan Kopi Bantjah, menyebut diversifikasi berawal dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh warga lewat pelatihan bersama PT Semen Padang. Dari situ, warga mulai mencoba mengolah kopi menjadi produk dengan karakter dan sasaran konsumen yang berbeda-beda.
Produk turunan yang sudah dikembangkan mencakup cookies, minuman kopi, lilin aromaterapi berbahan kopi, teh khas cascara dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan, selai kopi, serta dua jenis kue yang masih dalam tahap pengembangan.
Cascara menjadi salah satu produk yang menyita perhatian karena memanfaatkan bagian buah kopi yang berpotensi menjadi limbah. Sementara lilin aromaterapi menunjukkan pemanfaatan Kopi Bantjah mulai merambah produk kreatif di luar makanan dan minuman.
"Untuk produk turunan Kopi Bantjah ada cookies, minuman kopi, lilin aromaterapi dari kopi, teh khas cascara dari kulit dan daging buah kopi yang dikeringkan, selai kopi, dan dua jenis kue yang juga sedang kami kembangkan," ujar Milawati.
Pengembangan produk disebut masih berada pada tahap awal. Pemasaran untuk sementara dilakukan di sekitar Kota Padang, antara lain melalui keikutsertaan dalam berbagai kegiatan bazar.
Meski jangkauan pasar masih terbatas, keikutsertaan di bazar menjadi cara warga memperkenalkan produk sekaligus mengukur peluang pengembangannya ke depan.
"Untuk sementara masih sekitar Kota Padang. Karena produk turunannya masih baru kami buat, kemarin baru kami bawa ke bazar-bazar," katanya.
Pengembangan keterampilan menjadi bagian penting dalam proses ini. Sebanyak lima warga mengikuti pelatihan pengolahan produk turunan kopi di Royal Asia Hotel. Peserta memperoleh pengetahuan tentang berbagai kemungkinan pemanfaatan kopi, termasuk bagian buah yang sebelumnya belum banyak diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
"Kami sangat banyak mendapatkan dukungan dari PT Semen Padang. Kami diikutkan pelatihan di Royal Asia Hotel. Ada lima orang yang mengikuti pelatihan produk turunan ini. Kami mendapatkan beberapa jenis produk yang bisa dibuat dari turunan kopi, sehingga sekarang mulai kami kembangkan sedikit demi sedikit," kata Milawati.
Upaya memperluas keterlibatan masyarakat juga menyasar generasi muda melalui pelatihan barista. Milawati berharap pengembangan Kopi Bantjah tidak hanya melibatkan petani dan pengolah produk, tetapi juga anak muda yang berminat pada pengolahan, penyajian, dan pemasaran kopi.
"Untuk Gen Z, kami juga sudah memasukkan mereka dalam pelatihan barista. Jadi semua kalangan kami usahakan untuk terlibat dalam Kopi Bantjah ini," ujarnya.
Di sisi hulu, pengembangan Kopi Bantjah ditopang kelompok petani yang memperoleh pendampingan PT Semen Padang sejak 2023. Ketua Kelompok Petani Kopi Bantjah Yulisman menyebut dukungan tersebut memberi kesempatan bagi warga mengembangkan potensi kopi sekaligus menyampaikan kebutuhan kelompok dalam menjalankan usaha.
"PT Semen Padang secara konsisten mendukung pengembangan Kopi Bantjah. Kami juga mulai memberikan dampak bagi masyarakat sehingga terus mendapatkan bantuan dan dukungan," ujar Yulisman.
Perhatian terhadap Kopi Bantjah tidak lepas dari posisi Koto Baru di kawasan Ring 1 PT Semen Padang. Pendampingan sejak 2023 menjadi bagian upaya memperkuat potensi ekonomi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Saat ini kelompok Kopi Bantjah memiliki 36 petani terdata, dengan sekitar 31 orang di antaranya masih aktif.