Harimau Sumatera Terdeteksi 200 Meter dari Rumah Warga di Pelalawan, BBKSDA Riau Lakukan Mitigasi

Penulis: Redaksi  •  Selasa, 20 Januari 2026 | 12:12:37 WIB
Tim BBKSDA Riau melakukan pemantauan ketat setelah kemunculan harimau sumatera di Desa Pulau Muda, Pelalawan.

PEKANBARU – Menyusul viralnya rekaman video yang memperlihatkan kemunculan harimau sumatera di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau (BBKSDA Riau) langsung mengambil langkah mitigasi untuk memastikan keselamatan warga sekaligus menjaga kelestarian satwa liar yang dilindungi.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono, mengatakan hasil penelusuran tim di lapangan menunjukkan lokasi kemunculan harimau berada di kawasan perbatasan hutan yang memang termasuk dalam kantong habitat alaminya.

“Jarak titik kemunculan dengan permukiman warga relatif dekat, sekitar 200 hingga 300 meter dari rumah masyarakat,” ujar Supartono, Selasa (20/1/2026).

Dari hasil identifikasi lebih lanjut, tim mendapati indikasi bahwa harimau yang terekam bukan hanya satu individu. Berdasarkan jejak serta pola pergerakan, kuat dugaan terdapat seekor induk yang berjalan bersama anaknya yang diperkirakan berusia sekitar empat hingga lima bulan.

“Pada usia tersebut, anak harimau masih dalam fase penyapihan dan sangat bergantung pada induknya. Karena itu, pergerakan keduanya cenderung beriringan dan mengikuti jalur yang sama,” jelasnya.

Guna menekan potensi konflik antara manusia dan satwa liar, BBKSDA Riau membentuk tim gabungan bersama unsur TNI, Polri, pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) terdekat, serta masyarakat setempat. Tim ini melakukan pemantauan intensif dan upaya penggiringan agar harimau kembali bergerak menjauh ke kawasan hutan yang lebih aman dan minim aktivitas manusia.

Terkait penanganan di lapangan, Supartono menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum memasang kandang jebak di lokasi kemunculan harimau. Ia menjelaskan, kandang jebak hanya disiagakan sebagai langkah antisipasi.

“Kandang jebak hanya standby di kantor Resor Kerumutan dan di kantor pemegang PBPH. Tidak kami pasang,” tegasnya.

Selain langkah teknis tersebut, BBKSDA Riau juga mengimbau masyarakat agar tidak merekam maupun menyebarluaskan video kemunculan harimau. Hal ini dinilai penting untuk mencegah kepanikan publik dan menghindari beredarnya informasi yang tidak tepat.

Warga diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya pada waktu pagi dan malam hari, serta memastikan ternak tidak dilepas di area terbuka yang berpotensi menarik perhatian satwa liar. Masyarakat juga diharapkan segera melapor kepada petugas apabila menemukan jejak, suara, atau tanda keberadaan harimau di sekitar permukiman.

Supartono menegaskan seluruh langkah penanganan dilakukan dengan mengedepankan keselamatan manusia tanpa mengabaikan upaya perlindungan terhadap harimau sumatera yang berstatus satwa dilindungi.

“Tim akan tetap siaga di lokasi hingga situasi benar-benar aman dan pergerakan harimau menjauh dari permukiman warga,” pungkasnya.

Reporter: Redaksi
Back to top