SUMATERA BARAT — Di Situs Menhir Bawah Parit, sebagian menhir masih berdiri tegak, sementara lainnya rebah dengan orientasi menghadap tenggara ke arah Gunung Sago. Yang menarik, lima di antaranya merupakan menhir berhias dengan motif tumpal, pucuk rebung, kaluak paku, geometris, hingga siriah gadang.
Mahyeldi menyebut motif-motif itu memperlihatkan kekayaan simbol budaya masyarakat masa lampau. "Ini membuktikan bahwa masyarakat di Maek sejak ribuan tahun sebelum masehi sudah memiliki budaya. Mereka hidup berkelompok, memiliki pandam pekuburan, serta ukiran-ukiran pada menhir yang menunjukkan adanya peradaban," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi.
Mahyeldi menegaskan bahwa Nagari Maek layak disebut sebagai "negeri seribu menhir" karena memiliki kelompok menhir terbanyak di Sumatera Barat. "Kita hadir langsung di Nagari Maek karena ini adalah negeri seribu menhir. Menhir yang berkelompok seperti ini hanya ada di Nagari Maek, Kabupaten Limapuluh Kota," kata Mahyeldi.
Perhatian terhadap situs ini tidak hanya datang dari dalam negeri. Mahyeldi mengungkapkan bahwa tokoh Malaysia, Rais Yatim, sebelumnya sempat berdiskusi dengannya mengenai keberadaan situs menhir Maek. Rais Yatim disebut sangat tertarik karena tulisan dan ukiran pada menhir dinilai perlu diteliti lebih dalam.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tidak tinggal diam. Mahyeldi menyatakan bahwa pada Oktober mendatang, direncanakan akan hadir peneliti dari Australia untuk melakukan kajian lebih lanjut terhadap situs tersebut. Kolaborasi para ahli dari berbagai negara pun didorong untuk mengungkap lebih jauh nilai sejarah dan kebudayaan yang terkandung di kawasan menhir Maek.
"Saya datang ke sini karena sebelumnya sudah bertemu dengan Rais Yatim dari Malaysia. Beliau sangat tertarik karena tulisan-tulisan dan ukiran pada menhir ini merupakan sesuatu yang harus dibaca dan diteliti lebih dalam," ungkap Mahyeldi.
Bagi warga Nagari Maek, keberadaan 370 menhir bukan sekadar tumpukan batu. Menurut Mahyeldi, situs ini adalah warisan sejarah penting yang perlu terus diteliti secara ilmiah. Keberadaan menhir menunjukkan bahwa masyarakat Maek pada masa lampau telah memiliki sistem kehidupan sosial dan budaya yang maju, jauh sebelum era modern. Pemerintah daerah pun berkomitmen untuk terus menjaga dan mempromosikan situs ini sebagai bagian dari identitas budaya Minangkabau.