PADANG — Dari 311 peserta yang mendaftar, hanya 173 karya video yang lolos verifikasi administrasi dan substansi. Dewan juri kemudian menyaringnya menjadi 50 semifinalis yang tampil langsung dengan iringan band, hingga akhirnya terpilih 10 finalis terbaik—masing-masing lima putra dan lima putri—serta 10 karya video unggulan.
Gubernur Mahyeldi menekankan pemilihan lagu Pasan Buruang bukan kebetulan. Menurutnya, syair lagu Minang lahir dari peristiwa alam dan keseharian masyarakat, sehingga sarat nilai kehidupan yang relevan dengan isu lingkungan saat ini.
"Ini bentuk edukasi yang membumi. Anak-anak tidak hanya diajak bernyanyi, tapi memahami pesan leluhur tentang menjaga alam dari lirik yang mereka bawakan," kata Mahyeldi dalam sambutannya.
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Habibul Fuadi mengungkapkan antusiasme peserta tahun ini melampaui ekspektasi. Ia memanfaatkan momen grand final untuk mengumumkan rencana penguatan pendidikan lingkungan di sekolah.
Program Gerakan Satu Siswa Satu Pohon akan mulai diterapkan tahun ajaran mendatang. Targetnya, sekitar 80 ribu pohon ditanam setiap tahun, sebanding dengan jumlah siswa SMA/SMK yang lulus.
"Kami ingin kelulusan siswa tidak hanya dirayakan dengan wisuda, tetapi juga ditandai dengan kontribusi nyata berupa pohon yang mereka tanam," ujar Habibul.
Kegiatan ini merupakan kerja sama Dinas Pendidikan Sumbar dengan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kehutanan, dan Diskominfotik Sumbar. Grand final turut dihadiri unsur Forkopimda, bupati dan wali kota atau perwakilan, Ketua TP-PKK Sumbar, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan Sumbar.
Puluhan pelajar dan pendukung finalis memadati auditorium. Suasana kompetisi berlangsung meriah, dengan masing-masing finalis membawakan lagu Pasan Buruang versi mereka diiringi band pengiring.
Lomba ini diyakini menjadi model edukasi lingkungan yang bisa direplikasi daerah lain. Perpaduan seni tradisi dan isu kontemporer soal ekologi dinilai lebih mudah dicerna generasi muda dibandingkan sosialisasi konvensional.